Mullah Nashruddin Hoja

Mullah Nashruddin Hoja 1Kala Anda sampai di samudera, Anda tidak akan berbicara tentang arus sungai. (Hakim Sanai , The Walled Garden of Truth).

Mullah (guru) Nashruddin Hoja adalah sosok klasik yang dirancang oleh para darwis; sebagian untuk tujuan pemberhentian (jeda) karena situasi-situasi sesaat dimana didalamnya keadaan-keadaan tertentu dari jiwa dibuat jelas.

Kisah-kisah Nashruddin, dikenal secara menyeluruh di Timur Tengah, merupakan (dalam manuskrip The Subtleties of the Incomparable Nasrudin) satu dari sejumlah pencapaian ganjil (ajaib) di dalam sejarah metafisika. Namun, secara dangkal kisah-kisah Nashruddin lebih sering dikenal sebagai kisah humor atau bahan lelucon. Kisah-kisah itu diceritakan kembali tanpa henti di warung-warung teh dan di rombongan-rombongan pertunjukan, di rumah-rumah dan di siaran-siaran radio Asia. Tetapi dalam cerita Nashruddin itu inheren untuk dipahami adanya kedalaman makna. Terdapat lelucon, moral dan kelebihan lainnya yang membawa kesadaran sedikit lebih jauh menuju proses penyadaran dari kekuatan spiritual yang potensial.

Mullah Nashruddin Hoja 1Karena Sufisme merupakan sesuatu yang dijalani dan juga dipahami, cerita Nashruddin tidak bisa menghasilkan pencerahan utuh kepada dirinya sendiri. Di sisi lain, ia menjembatani celah antara kehidupan duniawi dan suatu perubahan bentuk kesadaran dalam cara yang tidak bisa dicapai oleh bentuk kesusastraan lainnya.

Manuskrip “Kepelikan” (the Subtleties) belum pernah dihadirkan secara utuh bagi pembaca Barat. Kemungkinan karena cerita-cerita tersebut tidak bisa diterjemahkan secara tepat oleh non-Sufi, atau dipelajari di luar konteksnya, dan mempertahankan dampak esensialnya. Di Timur, kumpulan cerita tersebut rata-rata digunakan untuk maksud kajian semata oleh para Sufi pemula. Lelucon-lelucon dari kumpulan tersebut secara individual telah menyebar ke hampir setiap kepustakaan dunia. Dan sejumlah lelucon tertentu dari perhatian skolastik telah dilekatkan pada cerita-cerita tersebut. Dalam penilaian ini sebagian sebagai sebuah contoh gelombang kebudayaan, atau untuk mendukung argumen-argumen yang menguntungkan identitas-dasar humor di mana saja. Tetapi jika karena daya tarik humor perenialnya cerita-cerita itu telah membuktikan kekuatannya, maka hal ini secara menyeluruh merupakan hal kedua bagi tujuan kumpulan cerita tersebut, yang dimaksudkan untuk menyediakan suatu dasar bagi tersedianya sikap Sufi terhadap kehidupan, dan memungkinkan pada pencapaian penyadaran Sufisme dan pengalaman mistis.

Legenda Nashruddin (the Legend of Nasrudin), yang dibubuhkan pada manuskrip the Subtleties dan paling tidak berasal dari abad ketiga belas, sebagian dimaksudkan untuk memperkenalkan Nashruddin. Penyebaran humor Nashruddin tidak bisa dihalangi, ia bisa masuk melalui pola-pola pemikiran yang dihasilkan manusia melalui kebiasaan dan rancangan. Dalam sebagian sistem pemikiran yang utuh, Nashruddin ada pada begitu banyak makna yang dalam sehingga (keberadaan) dirinya tidak bisa dimusnahkan. Sebagai tolak ukur kebenaran, hal ini mungkin bisa dilihat pada fakta bahwa organisasi-organisasi yang beragam dan asing seperti the British Society for the Promotion of Christian Knowledge (S.P.C.K) (Perkumpulan Inggris yang bergerak dalam Penyiaran Pengetahuan Kristiani) dan juga pada pemerintah Soviet, keduanya telah memanfaatkan Nashruddin. The S.P.C.K. telah menerbitkan beberapa cerita (Nashruddin) dengan judul cerita-cerita tentang Khoja [Khwaja] (Tales of the Khoja); sementara orang-orang Rusia (mungkin dengan prinsip “Jika Anda tidak bisa mengalahkan mereka, maka bergabunglah dengan mereka”) telah membuat film tentang Nashruddin dengan judul The Adventures of Nasrudin. Bahkan orang-orang Yunani, yang menerima beberapa hal dari orang Turki, menganggap Nashruddin sebagai bagian dari warisan kebudayaannya. Pemerintah sekular Turki, melalui departemen penerangannya, telah menerbitkan sebuah kumpulan lelucon metafisis yang dinisbatkan kepada tokoh yang dianggap sebagai guru Muslim ini yang merupakan tipe-ideal mistik Sufi, meskipun Tarekat-tarekat Sufi ditindas melalui Undang-undang di Republik Turki.

Mullah Nashruddin Hoja 2

Tak ada seorang pun tahu siapa sebenarnya Nashruddin itu, kapan dan di mana ia hidup. Tujuan keseluruhan tulisan ini adalah menampilkan satu sosok yang tidak bisa diberi karakter yang sesungguhnya, dan yang berada di luar waktu. Adalah pesan, dan bukan orangnya, yang penting bagi para Sufi. Hal ini tidak menghalangi masyarakat untuk memberikan suatu sejarah yang fiktif, dan bahkan sebuah makam. Para sarjana — berlawanan dengan orang yang terlalu formal dimana dalam cerita-ceritanya seringkali memunculkan Nashruddin sebagai pemenang — bahkan telah mencoba menjadikan manuskrip the Subtleties kedalam serpihan-serpihan terpisah dengan harapan menemukan bahan biografis yang memadai. Salah satu “penemuan” mereka pastilah akan mengingatkan bahwa ia adalah Nashruddin sendiri. Nashruddin mengatakan bahwa ia memandang dirinya sendiri secara terbalik di dunia ini, demikian papar seorang sarjana. Dan pandangan ini ia menarik kesimpulan bahwa tahun yang diduga merupakan saat kematian Nashruddin, atau “nisannya” seharusnya tidak dibaca 386, tetapi 683. Profesor lainnya merasa bahwa angka-angka Arab yang digunakan, jika benar-benar terbalik, tampaknya lebih menyerupai angka 274 H. Dengan seksama ia mencatat bahwa seorang darwis yang dimintainya bantuan dalam persoalan ini, “… sekadar mengatakan, mengapa tidak memasukkan seekor laba-laba ke dalam tinta dan melihat tanda apa yang dibuatnya di saat laba-laba itu merayap ke luar. Hal ini akan memberikan waktu yang benar atau menunjukkan sesuatu.”

Sesungguhnya angka 386 bermakna 300 + 80 + 6. Jika disesuaikan dengan abjad-abjad Arab, hal ini akan berbunyi Sy, W, F, yang membentuk kata SyaWaF: “Menyebabkan seseorang melihat, untuk memperlihatkan sesuatu”. Laba-laba darwis tersebut akan “memperlihatkan” sesuatu, sebagaimana yang ia katakan sendiri.

Jika kita melihat beberapa cerita klasik Nashruddin dengan cara seutuh mungkin, kita segera menemukan bahwa keseluruhan pendekatan skolastik merupakan cara terakhir yang diperbolehkan oleh Sufi:

Nashruddin, ketika menyeberangi perairan yang ganas bersama seorang sarjana yang berpola pikir kaku dan formalistik, mengatakan sesuatu kepadanya yang secara kaidah bahasa tidak sesuai. “Apakah Anda tidak pernah belajar kaidah-kaidah?” tanya si sarjana tersebut.

“Tidak,” jawab Nashruddin.

“Maka separo kehidupan Anda sia-sia,” ucapnya kepada Nashruddin seraya bertanya, “Apakah Anda pernah belajar berenang?”

“Tidak, mengapa?”

“Maka seluruh kehidupan Anda sia-sia — kita tengah tenggelam.”

Ini merupakan penekanan terhadap Sufisme sebagai suatu aktivitas praktis, seraya menolak bahwa pemikiran formal bisa sampai pada kebenaran, dan pola pemikiran yang diperoleh dari dunia biasa (pengalamannya) bisa diterapkan pada realitas yang sesungguhnya, yang bergerak ke dimensi lainnya.

Hal ini terlihat, bahkan lebih diperkuat oleh sebuah cerita konyol yang dilontarkan di sebuah warung teh, sebuah istilah tempat Sufi untuk pertemuan para darwis.

Seorang pendeta masuk dan berkata:

“Guruku mengajariku untuk menyebarkan wejangan bahwa manusia tidak akan pernah sempurna sampai seorang yang tidak dizalimi marah pada kezaliman itu, semarah orang yang benar-benar dizalimi.”

Orang-orang yang duduk sesaat merasa terkesan, kemudian Nashruddin berujar:

“Guruku mengajariku bahwa seharusnya tidak seorang pun menjadi marah tentang sesuatu sampai ia merasa pasti bahwa apa yang dipikirnya sebagai suatu kesalahan itu pada hakikatnya adalah salah — dan bukan sekadar dugaan.”

Nashruddin, dalam kapasitas sebagai guru Sufi, sering menggunakan teknik darwis bagi dirinya sendiri dengan memainkan peranan orang yang belum tercerahkan dalam sebuah cerita untuk menjelaskan suatu kebenaran. Sebuah cerita terkenal yang menyangkal kepercayaan dangkal (superfisial) terhadap hukum sebab-akibat menjadikan dirinya sebagai korban.

Suatu hari Mullah Nashruddin tengah berjalan di sebuah gang ketika seorang jatuh dari atap rumah dan menimpa tubuhnya. Orang yang jatuh tersebut tidak terluka — tetapi justru Mullah Nashruddin yang dibawa ke rumah sakit.

“Ajaran apakah yang bisa Tuan ambil dari peristiwa ini, Guru?” tanya salah satu muridnya.

“Hindari kepercayaan terhadap kepastian atau sesuatu yang tidak bisa dihindari, meskipun hukum sebab-akibat tampak tidak bisa ditolak! Ajukan pertanyaan-pertanyaan teoritis seperti: ‘Jika seseorang jatuh dari atap, apakah lehernya akan patah?’ Ia yang jatuh — tetapi justru leherku yang patah!”

Karena orang kebanyakan berpikir dalam pola-pola (baku) dan tidak bisa menyesuaikan dirinya pada suatu cara pandang yang benar-benar berbeda, maka ia kehilangan sejumlah besar makna kehidupan. Ia mungkin hidup, bahkan maju, tetapi tidak bisa memahami semua yang terjadi. Cerita tentang penyelundup menjadikan hal ini semakin jelas.

Nashruddin biasa membawa keledainya yang punggungnya dimuati kantong-kantong penuh berisi sekam, menyeberangi perbatasan setiap hari. Karena mengaku sebagai penyelundup kala berjalan pulang naik keledainya setiap malam, maka para penjaga perbatasan memeriksanya berkali-kali. Mereka memeriksa orangnya, menurunkan sekamnya, kemudian memasukkannya ke dalam air dan bahkan membakarnya dari waktu ke waktu.

Meskipun demikian ia menjadi semakin makmur dan mencolok. Pada saatnya ia berhenti dan pindah ke negeri lain. Di tempat baru ini ia sudah bertahun-tahun, dimana salah satu petugas bea cukai bertemu dengannya.

“Sekarang Anda bisa menceritakan kepadaku, Nashruddin!” ucapnya. “Apa sebenarnya yang Anda selundupkan dulu, sehingga kami tidak pernah bisa menangkapnya?”

“Keledai,” jawab Nashruddin.

Cerita ini juga menekankan salah satu dari kandungan besar Sufisme –bahwa pengalaman yang tidak biasa dan tujuan mistik merupakan sesuatu yang lebih dekat kepada manusia dibanding yang disadari. Anggapan bahwa sesuatu yang esoteris atau transenden pastilah jauh atau rumit telah dianut oleh orang-orang bodoh. Dan orang semacam ini tidak memiliki syarat untuk memberikan penilaian terhadap persoalan. Ini menjadi ” jauh” hanya dalam arah yang tidak ia sadari.

Nashruddin, seperti Sufi lainnya, tidak merusak kaidah-kaidah zamannya. Tetapi Ia menambahkan suatu dimensi baru bagi kesadarannya, dengan menolak menerima terhadap tujuan-tujuan khusus dan terbatas. Bahwa kebenaran, katakanlah demikian, merupakan sesuatu yang bisa diukur sebagaimana sesuatu yang lain. Apa yang disebut oleh masyarakat sebagai kebenaran adalah relatif pada situasi mereka. Dan ia tidak bisa menekannya sampai menyadarinya. Salah satu cerita Nashruddin, salah satu yang paling cerdik, memperlihatkan bahwa sampai seseorang bisa melihat melalui kebenaran relatif, maka tidak ada kemajuan bisa dibuat.

Suatu hari Nashruddin duduk di pengadilan. Raja mengeluh bahwa para pejabatnya tidak jujur. “Paduka,” ucap Nashruddin, terdapat kebenaran dan kejujuran. Orang harus mempraktekkan kebenaran sejati, sebelum mereka bisa menggunakan kebenaran relatif. Mereka selalu mencoba-coba cara lain. Akibatnya adalah bahwa mereka berlaku lancang dengan kebenaran buatan-manusia, sebab secara naluri mereka mengetahui bahwa itu hanyalah suatu ciptaan (manusia).”

Raja menganggap hal ini terlalu rumit, “Sesuatu harus benar atau salah. Aku akan membuat orang berkata jujur dan dengan praktek ini mereka akan terbiasa jujur.”

Ketika gerbang kota dibuka pada esok harinya, sebuah gantungan telah dipasang, yang dipimpin oleh seorang kapten dari pengawal istana. Sebuah pengumuman dilontarkan:

“Siapa saja yang memasuki kota, pertama-tama harus menjawab benar pertanyaan yang akan dikemukakan kepadanya oleh kapten pengawal.”

Nashruddin, yang tengah menunggu di luar, maju pertama.

Kapten tersebut berkata, “Mau ke mana engkau? Jawab dengan jujur — alternatifnya adalah hukuman mati dengan digantung.”

“Aku akan,” jawab Nashruddin, “digantung di atas tiang gantungan itu.”

“Aku tidak mempercayaimu.”

“Jika demikian, baiklah. Jika aku berdusta, gantung aku.”

“Tetapi hal itu akan menjadikannya (kebohongan) sebagai kebenaran.”

“Tepat,” ucap Nashruddin, “kebenaranmu.”

Calon Sufi juga harus memahami bahwa tolok ukur kebaikan dan keburukan didasarkan pada ukuran individu atau kelompok, bukan atas dasar fakta obyektif. Sampai ia mengalami hal ini secara internal dan juga menerimanya secara intelektual, ia tidak akan mampu mencapai pemahaman yang lebih dalam (batin). Skala pengubahan ini digambarkan oleh cerita tentang perburuan:

Seorang raja yang senang bergaul dengan Nashruddin, dan juga senang berburu, memerintahkannya untuk menyertainya dalam sebuah perburuan beruang. Nashruddin merasa sangat ketakutan.

Ketika Nashruddin kembali ke desanya, seseorang bertanya kepadanya, “Bagaimana berburunya?”

“Luar biasa!”

“Berapa ekor beruang yang Anda lihat?”

“Tidak seekor pun.”

“Lantas, bagaimana bisa luar biasa?”

“Jika engkau berburu beruang, dan jika engkau adalah aku, tidak melihat satu pun beruang merupakan pengalaman luar biasa.”

Pengalaman internal tidak bisa disalurkan melalui pengulangan, tetapi harus disegarkan kembali secara terus-menerus dari sumbernya. Banyak madzhab yang tetap beroperasi lama setelah dinamika aktualnya telah kering, semata-mata menjadi pusat pengulangan suatu doktrin yang semakin melemah. Nama ajaran tersebut mungkin tetap sama. Ajaran tersebut mungkin tidak memiliki nilai lagi, bahkan mungkin bertentangan dengan makna asalnya, yang hampir semuanya selalu merupakan pendangkalan terhadap makna salah satu persoalan pokok dalam ceritanya tentang “Kuah Sup Bebek”.

Seorang kerabat jauh mengunjungi Mullah Nashruddin, dengan membawa seekor bebek sebagai buah tangan. Karena gembira, Nashruddin memasaknya dan menyantapnya bersama tamunya. Akan tetapi, akhir-akhir ini orang-orang pedalaman silih berganti mengunjungi rumah Nashruddin, masing-masing orang mengaku sahabat dari “orang yang membawakan bebek itu sebagai buah tangan”.

Lama-kelamaan Nashruddin terkuras. Akan tetapi, pada suatu hari seorang asing lainnya berkunjung, “Aku adalah sahabat dari sahabat dari sahabat kerabat yang membawakan bebek kepada Anda.”

Ia duduk, seperti semua tamu-tamunya, mengharapkan sebuah hidangan. Akhirnya Nashruddin menghidangkan kepadanya semangkuk air panas.

“Apa ini?”

“Ini adalah sup dari sup dari sup bebek yang dibawa oleh kerabatku.”

Persepsi tajam yang dicapai Sufi kadang-kadang memungkinkan dirinya mengalami hal-hal yang tidak terlihat oleh orang-orang lain. Karena tidak mengetahui hal ini, para anggota dari madzhab-madzhab lainnya secara umum memperlihatkan kelemahan persepsinya dengan mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara jelas merupakan akibat dari ketidakmatangan spiritualnya, sehingga seorang Sufi bisa membaca dirinya seperti sebuah buku. Oleh karena itu, persepsi tersebut digambarkan oleh cerita Nashruddin lainnya:

Nashruddin memasuki sebuah rumah besar untuk mengumpulkan sedekah. Sang pembantu berkata, “Tuanku sedang keluar.”

“Baiklah, ” ucap Nashruddin, “meskipun ia tidak bisa menyumbang, tolong sampaikan nasehatku kepadanya. Katakan, ‘Lain kali jika Tuan keluar, jangan tinggalkan wajah Tuan di jendela — seseorang mungkin bisa mencurinya’.”

Orang tidak tahu ke mana harus menoleh kalau mereka mencari pencerahan. Akibatnya, tidaklah mengejutkan jika mereka menempelkan dirinya pada suatu cara penyembahan (kultus), menenggelamkan dirinya pada semua cara teori-teori, dengan meyakini bahwa mereka memiliki kapasitas kebenaran dari yang salah (yang sejati dari yang palsu).

Nashruddin mengajarkan hal ini dalam berbagai cara. Pada suatu kesempatan seorang tetangga menemukannya tengah berlutut mencari sesuatu.

“Apa yang hilang, Mullah?”

“Kunciku,” jawab Nashruddin.

Setelah beberapa menit mencari, tetangga itu bertanya, “Di mana Anda menjatuhkannya?”

“Di rumah.”

“Demi Allah, lantas mengapa Anda mencarinya di sini?”

“Sebab di sini lebih banyak cahaya.”

Cerita ini merupakan salah satu yang paling terkenal dari semua cerita Nashruddin, yang digunakan oleh para Sufi, untuk mengulas orang-orang yang mencari sumber-sumber lahiriah bagi pencerahan. Kisah ini merupakan bagian dari pertunjukan Karl Vallentin, “badut metafisis” akhir dari Munich.

Mekanisme rasionalisasi merupakan salah satu penghalang efektif bagi pendalaman persepsi. Dampak Sufistik mungkin seringkali disia-siakan karena individu tersebut tidak akan menyerapnya secara tepat.

Seorang tetangga datang untuk meminjam tali jemuran Nashruddin.

“Maaf, aku tengah mengeringkan bubuk gandum di atasnya.”

“Tetapi bagaimana engkau bisa mengeringkan bubuk gandum di atas tali jemuran?”

“Hal ini tidak sesulit yang Anda kira, jika Anda tidak ingin meminjamkannya.”

Di sini Nashruddin menampilkan dirinya sendiri sebagai bagian jiwa/akal yang selalu menolak, yang tidak akan menerima bahwa terdapat cara lain untuk mendekati kebenaran selain pola-pola konvensional.

Dalam perkembangan pikiran manusia, terdapat perubahan konstan dan membatasi kegunaan setiap teknik khusus. Karakteristik praktek Sufi ini terabaikan dalam sistem-sistem yang bersifat pengulangan, yang mengondisikan pikiran dan menciptakan suatu suasana pencapaian atau kedekatan pada pencapaian, tanpa benar-benar menghasilkannya. Nashruddin menggambarkan karakteristik tersebut dalam sebuah cerita yang berusaha memperjelas hal itu.

Mullah Nashruddin hampir terjatuh ke dalam kolam air. Seorang yang lewat menyelamatkannya, di saat yang tepat. Setiap kali mereka bertemu, orang tersebut mengingatkan Nashruddin betapa ia telah mencegahnya untuk tidak basah kuyup.

Akhirnya karena tidak tahan lagi, Nashruddin membawa “dewa penolongnya” tersebut ke kolam, kemudian ia menceburkan diri sampai sebatas leher, dan berteriak, “Sekarang aku basah kuyup seperti seandainya tidak pernah bertemu dengan Anda! Maukah Anda membiarkanku sendiri?”

Lelucon atau dongeng biasa, yang hanya mengandung satu persoalan atau penekanan, tidak bisa dibandingkan dengan sistem Nashruddin — secara ideal merupakan suatu partisipasi-pembacaan yang menghasilkan pengaruh batin, begitu juga pengaruh lahir atau superfisial. Dongeng dan lelucon biasa secara mistik dipandang steril karena tidak memiliki kekuatan menembus atau regenerasi sejati.

Meskipun kepiawaian dan tujuan yang rumit dari cerita Nashruddin jauh lebih tinggi, katakanlah dibanding tokoh Baldakiev bagi orang-orang Rusia, Joha bagi orang-orang Arab, atau Bertoldo bagi orang-orang Italia — semuanya adalah tokoh-tokoh komik yang terkenal — perbedaan tertentu dari kedalaman makna pada cerita-cerita bisa dimasukkan melalui cara-cara lelucon Nashruddin dan kesepadanannya pada peristiwa sporadis di mana saja.

Sebuah cerita Zen memberikan satu contoh menarik. Dalam cerita ini seorang pendeta bertanya kepada seorang guru untuk memberikan suatu gambaran realitas (yang ada) di luar realitas. Guru tersebut menggambar sebuah apel yang busuk, dan pendeta tersebut menangkap kebenaran itu melalui tanda ini. Kita tetap dalam kegelapan tentang apa yang ada di balik, atau yang membawa kepada, pencerahan tersebut.

Cerita Nashruddin tentang apel mengisi sejumlah besar rincian yang hilang tersebut.

Nashruddin tengah duduk di antara murid-muridnya, ketika salah seorang muridnya bertanya kepadanya tentang hubungan antara hal-hal yang ada di dunia ini dan hal-hal yang ada di suatu dimensi yang berbeda. Nashruddin mengatakan, “Engkau harus memahami tamsil!” Murid tersebut berkata, “Perlihatkan kepada kami sesuatu yang praktis — sebagai contoh sebuah apel dari Firdaus!”

Nashruddin memetik sebuah apel dan menyerahkannya kepada murid tersebut. “Namun apel ini jelek di salah satu bagiannya — apel surgawi seharusnya sempurna.”

“Sebuah apel surgawi seharusnya sempurna,” ucap Nashruddin, “tetapi sejauh engkau bisa menilainya, sementara kita berada di dunia yang tidak sempurna ini, serta dengan kemampuanmu yang ada saat ini, apel ini mendekati apel surgawi yang bisa engkau peroleh.”

Murid tersebut memahami bahwa istilah-istilah yang kita gunakan untuk hal-hal metafisis itu didasarkan atas istilah fisik. Dalam rangka menembus dimensi lain dari pemikiran (pemahaman), kita harus menyesuaikan pada cara pemahaman bagi dimensi tersebut.

Cerita Nashruddin, yang sangat mungkin merupakan asal dari tamsil apel tersebut, dirancang untuk menambahkan suatu rasa bagi pemikiran pendengarnya yang dibutuhkan untuk membangun kesadaran bagi pengalaman-pengalaman yang tidak bisa dicapai sampai suatu jembatan (kesadaran) telah dicapai.

Pembentukan kesadaran-batin secara bertahap ini merupakan karakter dari metode Sufistik Nashruddin. Kilatan pencerahan intuitif yang dihasilkan oleh cerita-cerita tersebut sebagian merupakan suatu pencerahan kecil pada dirinya sendiri, dan bukan suatu pengalaman intelektual. Ia juga merupakan batu loncatan menuju pembentukan kembali persepsi mistik dalam suatu penulisan yang menjebak, yang secara terus-menerus pemikiran dikondisikan oleh sistem-sistem pelatihan dalam kehidupan material.

Sebuah lelucon Nashruddin, yang dipisahkan dari terminologi teknisnya (kemungkinan akibat penterjemahan), masih bisa dirasakan nilai humornya. Dalam hal ini sebagian besar dampaknya mungkin hilang. Contohnya adalah lelucon tentang garam dan wool:

Nashruddin tengah membawa muatan garam ke pasar. Keledainya berjalan menyeberangi sungai, dan garamnya pun meleleh. Ketika sampai di seberang sungai, keledai tersebut berjalan lincah karena muatannya menjadi ringan. Maka Nashruddin menjadi marah. Pada hari pasaran berikutnya ia memuati kantong pelananya dengan wool. Keledainya hampir tenggelam dengan meningkatnya beban ketika binatang tersebut keluar dari air.

“Bah!” ucap Nashruddin penuh kemenangan, “itu akan mengajari untuk berpikir bahwa engkau akan memperoleh sesuatu setiap kali engkau melewati air.”

Pada cerita asalnya, dua istilah teknis dipergunakan, garam dan wool. “Garam” (milh) adalah homonim untuk “menjadi baik, bijak”. Keledai adalah simbol untuk manusia. Dengan menumpahkan beban kebajikan umumnya, seseorang akan merasa lebih baik, karena kehilangan beban. Akibatnya ia kehilangan makanannya, sebab Nashruddin tidak bisa menjual garam untuk membeli pakan ternaknya. Kata “wool” tentu saja merupakan kata lain untuk “Sufi”. Pada perjalanan keduanya, keledai tersebut telah meningkatkan bebannya melalui wool, karena adanya maksud dari sang guru, Nashruddin. Bebannya meningkat selama perjalanan menuju pasar. Tetapi hasil akhirnya menjadi lebih baik, sebab Nashruddin menjual wool basah, tentu saja lebih berat dari sebelumnya, dengan harga yang lebih tinggi dari wool kering.

Lelucon lain, yang juga ditemukan pada Cervantes (Don Quixote, Bagian 5), tetap menjadi sebuah lelucon meskipun istilah teknis “takut” semata-mata diterjemahkan apa adanya dan tidak dijelaskan:

“Aku akan mengantungmu!” ucap seorang raja lalim dan bodoh kepada Nashruddin. “Jika engkau tidak bisa membuktikan bahwa dirimu memiliki wawasan yang mendalam seperti yang telah dinisbatkan kepadamu.” Mendadak Nashruddin menyatakan bahwa dirinya bisa melihat seekor burung emas di langit dan iblis di dalam bumi. “Tetapi bagaimana engkau bisa melakukannya?” tanya sang raja. “Rasa takut,” jawab Nashruddin, “itulah yang Tuan perlukan.”

“Takut” dalam kosa kata Sufi, merupakan pengaktifan kesadaran yang bisa menghasilkan persepsi surga-inderawi (extra -sensory).

Ini merupakan suatu kawasan dimana akal-formal tidak dipergunakan, dan fakultas lain dari jiwa (mind) didorong untuk bekerja.

Tetapi Nashruddin, dengan cara yang sama sekali unik, berusaha mempergunakan piranti intelektualitas yang sama untuk tujuan-tujuannya sendiri. Gema dari tujuan ini bisa ditemukan pada the Legend of Nasrudin, dimana di dalamnya diriwayatkan bahwa Hussein, pendiri sistem tersebut, mengambil utusannya yang telah dirancang, Nashruddin, dari cengkeraman “Pendosa Tua” — sistem pemikiran yang mentah dimana hampir kita semua hidup di dalamnya.

“Hussein” dalam bahasa Arab dikaitkan dengan konsep kebajikan, “Hussein” bermakna “kuat, sulit untuk dimasuki”.

Ketika Hussein mencari ke seluruh dunia seorang guru yang akan membawa pesannya ke seluruh generasi, ia hampir putus asa ketika mendengar suara ribut. Sang Pendosa-Tua memakai salah satu muridnya karena menceritakan lelucon. “Nashruddin” bentak sang Pendosa-Tua, “karena sikapmu yang keterlaluan aku mengutukmu menjadi bahan kekonyolan dunia. Oleh sebab itu, jika satu dari cerita-ceritamu yang rancu diceritakan, maka enam cerita lagi pasti akan terdengar secara beruntun sampai engkau terlihat jelas sebagai sosok yang lucu.”

Diyakini bahwa pengaruh mistis dari tujuh cerita Nashruddin, yang dipelajari secara beruntun, adalah cukup untuk mempersiapkan seseorang menuju pencerahan.

Hussein, yang menguping hal itu, menyadari bahwa dari setiap situasi akan muncul pengobatannya sendiri, dan dengan demikian dari cara dimana kejahatan-kejahatan Pendosa-Tua terjadi itulah bisa dibawa pada perspektifnya yang sejati. Ia akan menjaga kebenaran melalui Nashruddin.

Ia memanggil Nashruddin dalam mimpi dan menanamkan sejumlah berkahnya kedalam dirinya. Barakah merupakan kekuatan Sufi, menembus secara batin ke dalam signifikansi-nominal dari makna. Dan sinilah semua cerita tentang Nashruddin menjadi karya seni “independen”. Mereka bisa dipahami sebagai lelucon; mereka memiliki suatu makna metafisis; cerita-cerita itu demikian kompleks dan mengandung sebagian dari sifat keutuhan dan kesempurnaan yang telah dicuri dari kesadaran manusia karena aktivitas-aktivitas dari Pendosa-Tua tersebut (sistem pemikiran yang mentah).

Dilihat dari sudut pandang biasa, barakah memiliki kualitas “magis” — meskipun ia secara esensial merupakan suatu kesatuan dan pendorong serta substansi dari realitas obyektif. Salah satu dari kualitas ini adalah siapa saja yang diberi barakah, atau setiap obyektif yang terkait dengannya, tidak menjadi soal berapa banyak ia telah diubah karena dampak dari orang ini secara spiritual tercurahkan. Oleh sebab itu, pengulangan semata-mata sebuah lelucon Nashruddin akan membawa barakah. “Maka dengan cara inilah ajaran-ajaran Nashruddin dari jalur Hussein ditanamkan selamanya di dalam suatu piranti yang secara keseluruhan tidak bisa diselewengkan tanpa bisa diperbaiki kembali. Seperti air, secara esensial semuanya adalah air, maka dalam pengalaman-pengalaman Nashruddin terdapat suatu takaran minimum yang tidak teredaksi yang bisa memberikan jawaban suatu panggilan, dan akan berkembang jika didorong.” Takaran minimum tersebut adalah kebenaran (truth), dan melalui kebenaran inilah dicapai kesadaran sejati.

Nashruddin merupakan cermin bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri. Tidak seperti cermin kebanyakan, semakin sering dilihat, maka semakin tampak sosok Nashruddin yang asli terproyeksikan di dalamnya. Cermin ini serupa dengan Cup of Jamshid yang termasyhur, sang pahlawan Persia; yang mencerminkan seluruh dunia, dan dalam cermin inilah para Sufi “melihat”.

Karena Sufisme tidak dibangun diatas perilaku artificial, dalam pengertian tersurat dengan rincian eksternal (lahiriah), tetapi di atas rincian komprehensif (pemahaman), maka cerita-cerita Nashruddin harus dialami, begitu juga direnungkan. Selain itu, merasakan kandungan setiap cerita melalui pengalaman langsung akan mendorong “kehadiran” mistik. Salah satu dari perkembangan pertama kehadiran tersebut adalah ketika seorang Sufi memperlihatkan tanda-tanda persepsi superior. Sebagai contoh, ia akan mampu memahami suatu keadaan melalui ilham, bukan melalui penalaran formal. Akibatnya, tindakan-tindakannya kadang-kadang bisa membingungkan para pengamat yang bekerja pada tataran kesadaran-biasa; meskipun demikian yang dihasilkannya akan tepat.

Sebuah cerita Nashruddin yang memperlihatkan bagaimana hasil yang tepat dicapai seorang Sufi melalui suatu mekanisme khusus (“cara yang salah” dalam pandangan orang-orang yang belum tercerahkan) bisa menjelaskan sebagian besar eksentrisitas para. Sufi:

Dua orang menghadap Nashruddin ketika ia berperan dalam kapasitasnya sebagai hakim. Salah satunya berkata, “Orang ini telah menggigit telingaku — aku menuntut qishas!” Yang lain bertutur, “Ia menggigitnya sendiri.” Nashruddin menunda kasus tersebut dan masuk kedalam ruangannya. Di sana ia menghabiskan waktu setengah jam berusaha untuk menggigit telinganya sendiri. Seluruh upayanya hanya mengakibatkannya terjerembab dan keningnya lecet. Kemudian ia kembali ke ruang sidang.

“Periksa orang yang telinganya digigit!” perintahnya. “Jika keningnya lecet, berarti ia melakukannya sendiri, dan kasus ditutup. Jika tidak, maka orang satunya yang melakukannya, dan orang yang digigit tersebut mendapat ganti-rugi tiga keping perak.” Keputusan yang benar tersebut bisa dicapai melalui suatu cara yang tampaknya tidak logis.

Di sini Nashruddin sampai pada jawaban tepat, tanpa melihat logika yang jelas dari situasinya. Dalam cerita lainnya, dimana ia sendiri mengambil peranan orang bodoh (bagi Sufi ini merupakan “Jalan Kehinaan”) dalam bentuk yang ekstrim, Nashruddin menggambarkan (cara) pemikiran manusia kebanyakan:

Seorang pelawak bertanya kepada Nashruddin untuk menebak apa yang ada dalam tangannya.

“Beri aku suatu tanda,” kata Mullah.

“Aku akan memberikan beberapa tandanya,” tutur sang pelawak, “yang berbentuk seperti telur, seukuran telur, penampilan, rasa dan baunya seperti telur. Di dalamnya ada (benda) berwarna kuning dan putih. Benda di dalamnya tersebut cair sebelum Anda memasaknya, tetapi lewat pemanasan akan mengeras. Selain itu, benda ini dihasilkan seekor unggas piaraan …”

“Aku tahu!” sela Mullah, “ia sejenis kue.”

Saya pernah mencoba pertanyaan serupa di London. Kepada tiga orang penjual rokok, secara beruntun saya menanyakan tentang, “Benda berbentuk silinder dari kertas yang dipenuhi racikan tembakau, panjangnya sekitar tiga inci, dibungkus dalam karton, kemungkinan dengan diberi gambar padanya.”

Tidak satu pun dari orang-orang yang sehari-harinya menjual rokok tersebut bisa mengenali apa yang saya inginkan. Dua orang dari mereka memberikan jawaban sekenanya — yang satunya mengarahkannya kepada grosir mereka, sementara yang lain kepada sebuah toko yang khusus menjual barang-barang impor eksotik bagi para perokok.”

Kata “rokok” mungkin menjadi pelatuk, yang penting untuk menggambar benda berbentuk silinder yang dibuat dari kertas dan dipenuhi tembakau. Tetapi kebiasaan untuk memerlukan pelatuk tersebut, yang bergantung pada asosiasi-asosiasi, tidak bisa digunakan dengan cara yang sama dalam kegiatan-kegiatan pemahaman. Kesalahannya adalah membawa satu bentuk pemikiran — meskipun mengagumkan pada tempatnya yang tepat — ke dalam konteks yang berbeda, dan berusaha menggunakannya di sana.

Rumi menceritakan sebuah kisah yang menyerupai cerita Nashruddin tentang telur tersebut, tetapi dengan menekankan faktor penting lainnya. Seorang putra raja telah dititipkan kepada para guru mistik yang melaporkan bahwa mereka tidak bisa lagi mengajarinya. Untuk mengujinya, sang raja menanyakan apa yang ada di dalam tangannya. “Benda ini bulat, keras dan berwarna kuning.” “Ini pasti sebuah ayakan,” jawab si anak. Sufisme menekankan perkembangan imbang persepsi-batin, perilaku manusia wajar dan penggunaannya.

Anggapan bahwa hanya karena seseorang hidup maka ia memiliki persepsi, ditolak oleh Sufisme, sebagaimana yang telah kita lihat. Seseorang mungkin secara klinis hidup, tetapi secara perseptif mati. Logika dan filsafat tidak bisa membantunya mencapai persepsi. Satu segi dari cerita berikut menggambarkan hal ini:

Mullah Nashruddin tengah berpikir keras.

“Bagaimana aku tahu apakah aku mati atau hidup?”

“Jangan bersikap bodoh,” ucap istrinya, “jika engkau mati lenganmu akan dingin.”

Segera setelah itu Nashruddin sudah berada di hutan memotong kayu. Saat itu tengah musim angin. Tiba-tiba ia merasa tangan dan kakinya dingin.

“Aku pasti mati,” pikirnya, “maka aku harus berhenti bekerja, sebab mayat tidak bekerja.”

Dan karena mayat tidak berjalan, ia berbaring di atas rerumputan.

Segera setelah itu sekawanan srigala muncul dan mulai menyerang keledainya yang ditambatkan ke sebuah pohon.

“Ya, teruskan, ambillah keuntungan dari orang mati!” ucap Nashruddin dari posisinya yang terlentang, “tetapi seandainya aku hidup, tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya terhadap keledaiku.”

Persiapan pikiran Sufi tidak akan memadai sampai seseorang mengetahui bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri — dan berhenti berpikir bahwa orang lain bisa melakukannya untuk dirinya. Nashruddin membimbing manusia awam dengan menggunakan “kaca-pembesarnya”:

Suatu hari Nashruddin pergi ke toko orang yang menjual segala jenis barang (peralatan).

“Anda punya kulit?”
“Punya.”
“Juga paku?”
“Punya.”
“Juga zat pewarna?”.
“Punya.”
“Lantas mengapa Anda tidak membuat sepasang sepatu untuk diri Anda sendiri?”

Cerita tersebut menekankan peran guru mistik, yang esensial dalam Sufisme, yang mempersiapkan titik awal bagi calon Salih (pencari) untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri — sesuatu tersebut adalah “kerja-diri” di bawah bimbingan tertentu yang merupakan karakteristik utama dalam sistem Sufisme.

Pencarian Sufi tidak bisa dilakukan dalam persahabatan yang tidak lazim. Nashruddin menekankan persoalan ini dalam kisahnya tentang undangan yang salah-waktu:

Malam telah larut, dan Nashruddin tengah berbincang-bincang di warung teh dengan para sahabatnya. Ketika mereka pergi, mereka menyadari bahwa mereka lapar. “Datang dan makanlah di rumahku!” ucap Nashruddin, tanpa memikirkan akibatnya.

Ketika rombongan tersebut hampir sampai di rumahnya, ia berpikir bahwa seharusnya ia pergi lebih dulu untuk mengatakan kepada istrinya. “Kalian tunggu sejenak di sini! Aku akan memberitahu istriku,” tuturnya kepada mereka.

Ketika menceritakan kepada istrinya, ia berujar, “Di rumah tidak ada apa-apa! Berani-beraninya kau mengundang semua temanmu …!”

Nashruddin pergi ke loteng dan bersembunyi.

Para tamu yang kelaparan itu pun segera menghampiri rumahnya dan mengetuk pintu.

Istri Nashruddin menjawab, “Mullah tidak ada di rumah!”

“Tetapi kami melihatnya masuk melalui pintu depan!” teriak mereka.

Ia tidak bisa berpikir apa-apa untuk menjawabnya.

Karena diliputi kecemasan, Nashruddin yang menyaksikan percakapan tersebut dari jendela loteng, nongol dan berkata, “Aku bisa keluar lagi melalui pintu belakang, bukankah demikian?”

Beberapa cerita Nashruddin menekankan akan kesalahan dari kepercayaan umum bahwa manusia memiliki kesadaran yang stabil. Dengan adanya kekuatan pengaruh-pengaruh batin dan lahir, perilaku semua orang akan berbeda-beda sesuai dengan perasaan-hatinya dan kesehatannya. Meskipun kenyataan ini diakui dalam kehidupan sosial, tetapi hal ini tidak diakui sepenuhnya dalam filsafat dan metafisika formal.

Paling jauh, seseorang diharapkan menciptakan suatu kerangka kerja dari kesungguhan atau pemusatan dalam dirinya sendiri, dan melalui cara ini diharapkan ia bisa mencapai pencerahan. Dalam Sufisme, kesadaran utuh itulah yang pada akhirnya harus diubah, dimulai dari pengakuan bahwa orang yang ‘belum tercerahkan’ itu sedikit lebih dari sekadar bahan mentah. Ia tidak memiliki sifat yang pasti, tidak memiliki kesadaran tunggal. Di dalam dirinya terkandung “esensi”. Esensi ini belum menyatu dengan keseluruhan wujudnya atau bahkan belum menyatu dengan kepribadiannya. Pada puncaknya, tidak seorang pun mengetahui secara otomatis “siapa” sejatinya dirinya, meskipun terdapat gambaran semua yang bertentangan dengan “kesejatian” tersebut. Hal ini ditekankan dalam cerita Nashruddin berikut:

Suatu hari Nashruddin memasuki sebuah toko.
Pemilik toko menuju untuk melayaninya.

“Pertama-tama,” ucap Nashruddin, “apakah Anda melihatku memasuki toko Anda?”
“Tentu.”
“Apakah Anda pernah melihatku sebelumnya?”
“Belum pernah sama sekali.”
“Lantas bagaimana Anda tahu bahwa ini adalah ‘aku’?”

Betapapun kisah ini bernilai semata-mata sebagai lelucon, tetapi bagi mereka yang memandangnya sebagai idea dari orang bodoh, dan tidak mengandung makna yang lebih dalam, maka mereka tidak akan bisa memanfaatkan kekuatan pencerahan yang terkandung dalam cerita tersebut. Anda memeras dari sebuah cerita Nashruddin hanya sedikit lebih dari yang Anda curahkan. Jika cerita itu tampak tidak lebih dari sekadar sebuah lelucon, maka orang tersebut perlu melakukan “kerja-diri” (mujahadah) lebih jauh. Orang seperti ini digambarkan dalam percakapan Nashruddin tentang rembulan:

“Apa yang mereka lakukan terhadap bulan kala ia tua?” seorang yang pandir bertanya kepada Nashruddin.

Jawabannya disesuaikan dengan pertanyaannya, “Mereka memotong-motong setiap bulan tua menjadi empat puluh bintang.”

Banyak dari cerita Nashruddin menjelaskan kenyataan bahwa biasanya orang mencari pencapaian mistis dengan mengharapkan hal itu diperoleh melalui pemahaman mereka sendiri, dan oleh sebab itu secara umum menutup diri mereka sendiri dari pencapaian tersebut sebelum memulainya. Tidak seorang pun bisa berharap untuk sampai mengetahui apa sesungguhnya pencerahan itu dan meyakini bahwa ia bisa mencapainya melalui suatu jalan yang telah ditetapkan dengan baik yang bisa dibentuk sejak awal. Inilah inti persoalan yang digambarkan pada cerita tentang perempuan dan gula berikut ini:

Ketika Nashruddin menjadi hakim, seorang perempuan menemuinya dengan membawa anaknya. “Anak ini,” tutur si ibu, “terlalu banyak makan gula. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan hal itu. Oleh sebab itu, aku meminta Anda secara resmi melarang memakannya, sebab ia tidak akan mematuhiku!”

Nashruddin mengatakan kepadanya untuk kembali dalam waktu seminggu lagi.

“Sekarang,” ucap Nashruddin kepada si anak. “Aku melarangmu memakan gula lebih dari jumlah ini setiap hari!”

Pada akhirnya perempuan tersebut menanyakan kepadanya, mengapa begitu lama diperlukan sebelum sebuah perintah sederhana bisa diberikan.

“Sebab aku harus membuktikan apakah aku sendiri dapat menghentikan kebiasaan makan gula sebelum memerintahkan orang lain melakukannya.”

Permintaan perempuan tersebut, selaras semata-mata didasarkan pada anggapan-anggapan tertentu. Pertama, bahwa keadilan bisa dilaksanakan semata-mata dengan memberikan perintah. Kedua, bahwa sesungguhnya seseorang bisa makan sedikit gula sebagaimana yang ia inginkan kepada anaknya untuk memakannya. Ketiga, bahwa sesuatu itu bisa disampaikan kepada orang lain oleh seseorang yang tidak terlibat langsung dengan sesuatu tersebut.

Cerita ini bukan sekadar suatu cara mengubah “redaksi” pernyataan, “Kerjakan seperti yang kukatakan, bukan seperti yang kulakukan!” Jauh dari wujud ajaran etis, ini merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar.

Ajaran Sufi hanya bisa dilakukan oleh seorang Sufi, bukan oleh seorang teoritisi atau eksponen intelektual.

Karena sejalan dengan realitas-sejati, maka Sufisme tidak bisa dibuat secara dekat untuk menyerupai apa yang kita anggap sebagai realitas, tetapi ia benar-benar merupakan aturan yang didasarkan atas pengalaman nyata yang lebih mendasar. Sebagai contoh, kita cenderung melihat peristiwa-peristiwa secara sepihak. Kita juga beranggapan tanpa suatu pembenaran, bahwa suatu peristiwa terjadi seolah-olah hal itu terjadi pada suatu “ruang hampa”. Dalam hakikatnya, semua peristiwa terkait dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Hanya ketika kita telah mengalami keterkaitan dengan organisme kehidupan itulah kita bisa memahami pengalaman mistis. Jika Anda melihat tindakan yang Anda lakukan, atau yang dilakukan orang lain, Anda akan menemukan bahwa hal itu didorong oleh salah satu dari berbagai stimulan; dan Anda juga menyadari bahwa hal itu bukan suatu tindakan yang “terkecil” — ia memiliki akibat-akibat, kebanyakan justru yang tidak Anda harapkan.

CERITA MENUJU AWAL PENCERAHAN

“Lelucon” Nashruddin lainnya menegaskan siklus realitas yang mendasar ini, serta hubungan-hubungan tidak kasat-mata secara umum yang terjadi:

Suatu hari Nashruddin berjalan di sebuah jalan yang lengang. Malam mulai turun ketika ia melihat sepasukan berkuda menuju ke arahnya. Imajinasinya mulai bekerja, dan ia khawatir mereka akan merampoknya, atau memaksanya menjadi pasukan. Begitu kuatnya rasa takut ini sehingga ia melompati tembok dan ternyata ia berada di sebuah kuburan. Musafir-musafir lainnya, karena tidak memiliki prasangka sebagaimana Nashruddin, menjadi penasaran dan mengejarnya.

Ketika mereka mendatanginya tengah berbaring tidak bergerak, salah seorang di antara mereka berkata, “Apa yang bisa kami bantu, — mengapa Anda di sini dengan posisi seperti ini?”

Menyadari kesalahannya, Nashruddin berkata, “Ini lebih rumit dari yang kalian duga. Kalian lihat, aku di sini karena kalian, dan kalian di sini karena aku.”

Hanya seorang Sufi (mistik) yang “kembali” ke dunia normal setelah mengalami langsung keterkaitan dari hal-hal yang menjadi berbeda atau tidak terkait, yang benar-benar bisa memahami kehidupan dengan cara ini. Bagi Sufi, setiap metode metafisis yang tidak mencakup faktor (keterkaitan segala peristiwa) ini merupakan suatu metode yang hanya mencampur-aduk hal-hal lahiriah, dan tidak bisa menjadi suatu produk dari apa yang disebut sebagai pengalaman mistik. Metode semacam ini merupakan penghalang bagi pencapaian tujuan sejati yang didambakannya.

Ini bukan untuk menyatakan bahwa Sufi sebagai akibat dari pengalaman-pengalamannya, menjadi terpisah dari realitas kehidupan superfisial. Ia memiliki dimensi ekstra dalam wujud, yang bekerja secara paralel dengan kognisi yang lebih lemah dari manusia wajar. Nashruddin menerangkan hal ini secara menawan dengan pernyataannya:

“Aku bisa melihat dalam gelap.”

“Hal itu mungkin saja, Mullah Nashruddin. Tetapi jika benar demikian, mengapa Tuan terkadang membawa lilin di malam hari?”

“Untuk mencegah orang lain menabrakku.”

Cahaya yang dibawa oleh Sufi mungkin penyesuaiannya dengan cara-cara dari orang-orang di mana ia berada, setelah se”kembali”-nya dari perjalanan ke dalam suatu persepsi yang lebih luas.

Karena transmutasinya, Sufi merupakan bagian kesadaran realitas yang hidup dari seluruh wujud. Hal ini berarti: Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi — baik pada dirinya maupun orang lain — dengan cara terbatas seperti yang biasa dilakukan oleh para filosuf atau teolog. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada Nashruddin tentang hakikat Nasib. Ia menjawab, “Apa yang Anda sebut ‘Nasib’ adalah benar-benar asumsi/dugaan. Anda menduga bahwa sesuatu yang baik atau buruk akan terjadi. Akibat aktualnya itulah yang Anda sebut ‘Nasib’.” Pertanyaan seperti, “Apakah Anda seorang fatalis?” tidak bisa diajukan kepada seorang Sufi, sebab ia menolak konsep nasib yang tidak berdasar (fakta) yang tersirat dalam pertanyaan tersebut.

Karena ia bisa melihat kaitan-kaitan pada kedalaman satu peristiwa, maka sikap Sufi terhadap peristiwa-peristiwa individual bersifat komprehensif dan tidak memandangnya secara terpisah. Ia tidak bisa mengeneralisir dari data yang terpisah secara artifisial. “Tak satu pun yang bisa menunggangi kuda itu!” ucap sang raja kepadanya. Nashruddin berucap, “Tetapi aku menaiki pelananya.” “Apa yang terjadi?” “Aku juga tidak mampu menggerakkannya.” Cerita ini dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa ketika suatu fakta yang tampaknya konsisten ditarik sejajar dengan dimensi-dimensinya, maka ia akan berubah.

Apa yang disebut problem komunikasi, yang menarik begitu banyak perhatian, bergantung pada dugaan-dugaan yang tidak bisa diterima oleh Sufi. Seorang awam berkata, “Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan orang lain yang berada di luar hal-hal yang wajar?” Sikap Sufi adalah bahwa “komunikasi dari hal-hal yang memang harus dikomunikasikan tidak bisa dihalangi. Hal ini berarti wahananya tidak harus ditemukan terlebih dulu”.

Nashruddin dan seorang yogi (pendeta), dalam sebuah cerita, keduanya memainkan peran sebagai orang biasa yang, sesungguhnya, tidak memiliki sesuatu pun untuk dikomunikasikan di antara keduanya.

Suatu hari Nashruddin melihat sebuah bangunan aneh yang di pintunya seorang yogi duduk bertapa. Nashruddin memutuskan untuk belajar sesuatu dari sosok yang mengesankan ini, dan memulai pembicaraan dengan menanyakan siapa dan apa yang tengah dilakukannya.

“Aku seorang yogi,” ucapnya. “Dan aku menghabiskan waktuku berusaha untuk mencapai keselarasan dengan seluruh makhluk hidup.”

“Ini menarik,” tutur Nashruddin, “sebab, seekor ikan pernah menyelamatkan hidupku.”

Sang yogi memintanya untuk bergabung dengannya seraya mengatakan bahwa selama hidupnya yang dicurahkan untuk berusaha menyelaraskan dirinya dengan makhluk hayati, ia tidak pernah begitu dekat terlibat hubungan seperti yang dialami Nashruddin.

Ketika keduanya telah bermeditasi selama beberapa hari, si yogi memohon Nashruddin untuk menceritakan lebih rinci tentang pengalamannya yang mengagumkan dengan ikan tersebut, “Karena sekarang kita telah saling mengenal lebih baik,” ucap si yogi. “Karena sekarang aku mengenal Anda lebih baik,” tandas Nashruddin, “aku ragu, apakah Anda bisa memperoleh manfaat dari ceritaku?”

Tetapi si yogi mendesaknya. “Baiklah,” kata Nashruddin, “ikan tersebut benar-benar telah menyelamatkan hidupku. Pada waktu itu aku tengah kelaparan, dan ikan itu cukup untuk kumakan selama tiga hari.”

Melibatkan diri dengan kapasitas-kapasitas tertentu dari pikiran/jiwa yang menjadi ciri khusus dari apa yang disebut sebagai mistisisme eksperimental, merupakan sesuatu yang tidak satu pun Sufi berani melakukannya. Hasil dari percobaan terus-menerus tersebut tidak terhitung banyaknya pada beberapa abad yang lalu. Secara aktual Sufisme dari pengamatan empirik:

Nashruddin menebarkan segenggam roti di sekitar rumahnya.

“Apa yang Anda lakukan?” tanya seseorang.
“Agar harimau tidak mendekat,” jawab Nashruddin.
“Tetapi di sekitar sini tidak ada harimau.”
“Tepat! Bukankah ini efektif?” tukas Nashruddin.

Salah satu dari berbagai cerita Nashruddin yang ditemukan pada karya Cervantes, Don Quixote (Bagian 14), mengingatkan bahaya-bahaya dari intelektualisme yang kaku.

“Dengan doktrinku, tidak ada persoalan yang tidak bisa dijawab,” ucap seorang rahib yang baru saja memasuki sebuah warung teh di mana Nashruddin tengah duduk dengan para temannya.

“Dan baru beberapa saat yang lalu,” jawab Nashruddin, “Aku ditantang oleh seorang alim dengan sebuah pertanyaan yang tak terjawab.”

“Apabila hanya aku yang ada di sana! Katakan itu kepadaku, dan aku pastilah menjawabnya.”

“Baiklah,” ucap Nashruddin, “Ia berkata, ‘Mengapa Anda berusaha memasuki rumahku di waktu malam’?”

Persepsi Sufi terhadap keindahan terkait dengan suatu kekuatan penetrasi yang melampaui ketajaman dari bentuk-bentuk seni ilmu yang biasa. Suatu hari seorang murid mengajak Nashruddin untuk melihat pemandangan danau yang indah untuk pertama kalinya.

“Alangkah indahnya!” seru Nashruddin. “Tetapi seandainya …”

“Seandainya apa, Mullah?”

“Andai saja mereka tidak menempatkan air di dalamnya.”

Dalam rangka meraih tujuan mistik, Sufi harus memahami bahwa pikiran tidak bekerja dengan cara seperti yang kita duga. Selain itu dua orang yang saling “kenal” mungkin benar-benar saling merasa ragu.

Suatu hari Nashruddin meminta istrinya untuk membuat sejumlah besar halwa (manisan), dan memberikan semua bahannya kepadanya.

Ia hampir memakan seluruh manisan tersebut.

Di tengah malam, Nashruddin membangunkan istrinya.

“Aku baru saja memiliki pemikiran penting,” ucap Nashruddin.

“Katakan kepadaku!” desak istrinya.

“Bawakan dulu sisa manisannya dan aku akan menceritakannya kepadamu!”

Ketika istrinya membawakan sisa manisan tersebut, ia memintanya lagi untuk menceritakan pemikirannya.

Pertama-tama Nashruddin menghabiskan manisan tersebut.

“Pemikiran itu,” ucap Nashruddin, “adalah: ‘Jangan pernah pergi tidur sebelum menghabiskan seluruh manisan yang dibuat sepanjang hari itu’.”

Nashruddin memungkinkan seorang Salik (the Sufi Seeker, sang Pencari) untuk memahami bahwa gagasan-gagasan formal yang beredar pada ruang dan waktu tidak mesti gagasan-gagasan yang bisa mencapai ranah kesejahteraan yang lebih luas. Sebagai contoh, orang yang meyakini bahwa mereka dianugerahi sesuatu karena tindakan-tindakannya di masa lalu dan mungkin akan dianugerahi sesuatu di masa datang untuk perbuatan-perbuatannya di masa depan, tidak akan bisa menjadi Sufi. Konsepsi Sufi tentang waktu merupakan suatu keterkaitan — suatu keberlangsungan (continuum).

Dalam cerita klasik tentang “kamar mandi Turki” menggambarkan suatu cara yang memungkinkan suatu gagasan bisa dipahami:

Nashruddin mengunjungi tempat mandi Turki. Karena berpakaian jelek, ia dilayani secara kasar oleh petugas yang memberikannya sebuah handuk tua dan secuil sabun. Ketika pergi, ia memberikan sekeping uang emas kepada petugasnya. Pada hari berikutnya ia kembali muncul. Kali ini ia berbusana mewah, dan tentu saja mendapatkan pelayanan yang terbaik dan berbeda.

Ketika selesai mandi, ia memberikan sekeping uang logam terkecil yang ada kepada petugasnya.

“Ini,” ucap Nashruddin, “untuk pelayanan yang kemarin. Sementara uang emas itu adalah untuk pelayananmu pada saat ini.”

Sisa-sisa pola pemikiran (formal), ditambah ketidakmatangan pikiran, menyebabkan manusia berupaya untuk melibatkan diri mereka ke dalam mistisisme dengan berdasar pada pengertian-pengertiannya sendiri. Salah satu dasar yang pertama diajarkan kepada murid Sufi adalah bahwa ia mungkin memiliki sedikit pemahaman terhadap yang dibutuhkannya, dan mungkin ia menyadari bahwa dirinya bisa mendapatkannya dari belajar dan bekerja di bawah bimbingan seorang guru. Tetapi di luar itu ia tidak bisa mengajukan syarat. Berikut adalah cerita Nashruddin yang dipergunakan untuk menanamkan kebenaran ini:

Seorang perempuan membawa putranya yang masih kecil ke sekolah Nashruddin. “Tolong anak ini ditakut-takuti sedikit!” ucapnya, “sebab ia membuatku sedikit kewalahan.”

Nashruddin memelototkan bola matanya, mulai bernapas terengah-engah, berjungkir balik dan melepaskan tinjunya ke meja sampai perempuan yang ketakutan tersebut pingsan. Kemudian Nashruddin menerobos ke luar ruangan.

Ketika Nashruddin kembali dan perempuan tersebut telah siuman, perempuan itu berkata kepadanya, “Aku meminta Anda menakut-nakuti anakku, bukan aku!”

“Nyonya,” ucap Nashruddin, “bahaya tidak mengenal sasaran seperti yang Anda lihat, bahkan aku telah menakut-nakuti diriku sendiri. Ketika bahaya mengancam, ia mengancam semua orang secara sama.”

Demikian juga, guru Sufi tidak bisa memasok muridnya hanya dengan sejumlah kecil ajaran Sufisme. Sufisme merupakan keseluruhan, dan di dalamnya mengandung keutuhan, bukan fragmentasi kesadaran yang mungkin digunakan oleh orang yang belum tercerahkan dalam prosesnya sendiri dan mungkin ia menyebutnya sebagai “konsentrasi”.

Nashruddin mengolok-olok orang-orang yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, yang berharap mempelajari, atau mencuri rahasia kehidupan tanpa mau berupaya keras:

Sebuah kapal akan tenggelam dan para penumpang berlutut berdoa dan bertobat, seraya berjanji untuk melakukan segala jenis kebajikan jika mereka bisa diselamatkan. Hanya Nashruddin yang tidak bergerak.

Tiba-tiba, di tengah kepanikan tersebut ia melompat dan berteriak, “Sobat, sekarang bangkitlah! Jangan mengubah caramu — jangan terlalu mengobral janji. Aku kira aku melihat daratan!”

Nashruddin menegaskan kesalahan gagasan mendasar tersebut — yaitu bahwa pengalaman mistis dan pencerahan tidak bisa dicapai melalui pengaturan kembali dari gagasan-gagasan yang sudah dikenal baik, tetapi melalui suatu pengakuan terhadap keterbatasan dari pemikiran biasa, yang hanya melayani untuk tujuan-tujuan duniawi. Dengan melakukan hal ini, ia mengungguli setiap bentuk pengajaran lain yang ada.

Suatu hari Nashruddin memasuki sebuah warung teh dan berseru, “Bulan lebih berguna dari matahari!”

Seseorang bertanya, “Mengapa bisa demikian?”

“Sebab di malam hari kita lebih membutuhkan cahaya.”

Penaklukan cahaya nafsu ammarah yang merupakan tujuan dari perjuangan Sufi tidak dicapai semata-mata melalui pengendalian terhadap keinginan (syahwat) seseorang. Cara ini dipandang sebagai penjinakan terhadap kesadaran liar yang meyakini bahwa ia bisa mengambil apa yang ia butuhkan dari segala sesuatu (termasuk mistisisme) dan membelokkannya bagi penggunaannya sendiri. Kecenderung untuk memanfaatkan bahan-bahan dari sumber apa pun bagi keuntungan pribadi sangatlah bisa dipahami dalam dunia yang “utuh” secara parsial dari kehidupan biasa, tetapi tidak bisa dibawa ke dalam dunia yang lebih besar dari pemenuhan sejati.

Dalam cerita tentang burung yang mencuri, Nashruddin (dikisahkan) membawa sepotong hati dan resep untuk (kue) pie hati. Tiba-tiba seekor burung pemangsa meluncur turun dan mencomot (daging) hati tersebut dari tangannya. Ketika burung tersebut terbang menjauh, Nashruddin mengejarnya sambil berteriak, “Burung bodoh! Engkau mungkin mengambil hati tersebut, tetapi apa yang akan kau lakukan tanpa resepnya?”

Tentu saja dari sudut pandang burung itu, hati tersebut cukup memadai bagi keperluannya. Hasilnya mungkin seekor burung yang kenyang, tetapi ia hanya memperoleh apa yang ia pikirkan dan inginkan, bukan apa yang seharusnya bisa didapat.

Karena Sufi tidak selalu dipahami oleh orang lain, mereka akan berusaha membuatnya menyesuaikan diri dengan gagasan mereka tentang apa yang dipandang benar. Dalam cerita Nashruddin tentang burung yang lain (yang juga muncul pada karya agung puitik Rumi, Matsnawi), Nashruddin menemukan seekor elang raja bertengger di jeruji jendela rumahnya. Ia tidak pernah melihat seekor “merpati” yang aneh seperti ini. Setelah memotong lurus paruhnya dan memangkas cakar-cakarnya, ia melepaskannya seraya berkata, “Sekarang kau lebih tampak seperti burung. Seseorang telah mengabaikan dirimu.”

Pembagian kehidupan secara artifisial, pemikiran dan tindakan, tidak memiliki tempat dalam Sufisme. Nashruddin menanamkan pandangan ini sebagai prasyarat untuk memahami kehidupan sebagai keseluruhan. “Gula yang larut dalam susu akan menyebar ke seluruh susu tersebut.”

Nashruddin tengah berjalan melewati jalan berdebu dengan seorang sahabat. Ketika menyadari bahwa mereka sangat kehausan, mereka berhenti di sebuah warung teh dan menemukan bahwa mereka hanya memiliki uang untuk segelas susu. Sahabatnya berkata, “Minumlah bagianmu yang separo terlebih dulu, aku memiliki sejumlah gula yang akan aku tambahkan ke dalam bagianku!”

“Sobat, tambahkan gula itu sekarang juga, dan kita akan menikmatinya berdua,” ucap Nashruddin.

“Jangan! Gulanya tidak cukup untuk memaniskan segelas susu.”

Nashruddin pergi ke dapur dan kembali dengan membawa butiran garam. “Kabar baik, sobat — aku akan memperoleh separo bagianku dengan memberi garam — dan ini cukup untuk satu gelas penuh.”

Meskipun — dalam praktek, namun bahkan dunia artifisial yang telah kita ciptakan untuk diri sendiri — kita terbiasa beranggapan bahwa “hal-hal yang pertama pasti akan muncul pertama”, dan bahwa segala sesuatu pasti berurutan dari A sampai Z, anggapan ini tidak berlaku mutlak pada dunia metafisis yang memiliki orientasi berbeda. Seorang murid (Sufi), pada saat yang bersamaan, akan mempelajari berbagai hal yang berbeda, pada tingkat persepsi dan potensialitasnya tersendiri. Ini merupakan perbedaan lainnya antara Sufisme dan sistem-sistem yang bergantung pada anggapan bahwa hanya satu hal yang bisa dipelajari pada satu keadaan.

Seorang guru Sufi (darwis) mengulas hubungan multi bentuk dari Nashruddin dengan seorang murid (Sufi). Cerita tersebut, katanya, serupa dengan sebuah delima. Buah ini memiliki keindahan, gizi dan sari yang tersembunyi — bijinya.

Seseorang mungkin tertarik secara emosional dengan bentuk luarnya, tertawa mendengar sebuah lelucon, atau melihat keindahan lahiriah tersebut. Tetapi hal ini hanya jika delima tersebut diberikan kepada Anda. Semua hal yang terserap adalah bentuk dan warnanya, mungkin aromanya, bentuk lahir dan teksturnya.

“Anda bisa memakan buah delima dan merasakannya, merasakan kebahagiaan yang jauh lebih dari sarinya. Delima tersebut memberikan gizi kepada Anda, dan menjadi bagian diri Anda. Anda bisa membuang biji-kerasnya — atau memecahkannya dan menemukan suatu inti yang lezat di dalamnya. Inilah kedalaman yang tersembunyi itu. Ia memiliki warna, ukuran, bentuk, sari, rasa dan fungsinya tersendiri. Anda bisa mengumpulkan biji-bijiannya dan menjadikannya sebagai minyak bakar. Meskipun biji arang tersebut tidak lagi berguna, bagian yang bisa dimakan telah menjadi bagian dari Anda.”

Begitu seorang murid mencapai tingkat pandangan tertentu terhadap kerja-kerja sejati dari wujud (eksistensi), maka ia akan berhenti bertanya terhadap hal-hal yang sebelumnya tampak sebagai hal-hal yang sangat relevan dengan keseluruhan gambaran tersebut. Selain itu, ia bisa melihat bahwa sebuah keadaan bisa diubah oleh peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak memiliki relevansi dengannya. Cerita tentang selimut menjelaskan hal ini:

Nashruddin dan istrinya pada suatu malam terbangun karena mendengar dua orang bertikai di bawah jendela rumahnya. Istrinya menyuruh Nashruddin ke luar untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi. Ia menutupi bahunya dengan selimut dan kemudian turun. Begitu mendekati ke dua orang tersebut, salah seorang dari mereka merampas selimut tersebut, kemudian mereka lari.

“Sayang, apa yang menyebabkan pertikaian itu?” tanya istrinya ketika Nashruddin masuk rumah.

“Tentang selimutku. Begitu mereka mendapatkan selimutku, mereka segera pergi.”

—-

Seorang tetangga pergi ke Nashruddin untuk meminjam keledainya. “Keledaiku tidak ada, karena sedang dipinjam,” kata Nashruddin.

Padahal pada saat itu keledai tersebut terdengar meringkik dari dalam kandangnya.

“Tetapi aku bisa mendengar ringkikan keledai itu, di sana.”

“Siapa yang Anda percaya?” tanya Nashruddin, “aku atau keledai?”

Pengalaman terhadap dimensi realitas ini memungkinkan seorang Sufi menghindari rasa-keakuan dan penggunaan mekanisme rasionalisasi — suatu cara berpikir yang memenjarakan satu bagian dari akal. Nashruddin yang memainkan peranan sebagai seorang manusia tipikal untuk sesaat, menggambarkan persoalan ini kepada kita semua:

Seorang penduduk desa datang kepada Nashruddin dan berkata, “Sapi jantan Anda telah menanduk sapiku. Apakah aku berhak memperoleh ganti rugi?”

“Tidak,” ucap Mullah seketika, “sapi jantan itu tidak bertanggung jawab atas insiden itu.” “Maaf,” kata penduduk desa yang licik itu, “aku salah ucap. Yang kumaksudkan adalah sapi Tuan yang ditanduk sapiku, tetapi bukankah persoalannya sama saja?”

“Oh, tidak!” ucap Nashruddin, “Aku pikir lebih baik memeriksa kitab fiqihku untuk melihat apakah ada contoh hukum untuk masalah ini.”

Karena semua bangunan pemikiran intelektual manusia dinyatakan dalam hubungannya dengan penalaran eksternal, maka Nashruddin sebagai guru Sufi berulang kali berupaya mengungkapkan kesalahan anggapan umum itu. Upaya menuliskan atau menuturkan pengalaman mistis itu sendiri tidak pernah berhasil, sebab “mereka yang mengetahuinya tidak memerlukannya, sedang mereka yang tidak mengetahuinya tidak bisa meraihnya tanpa perantara.” Dua cerita dari beberapa yang penting seringkali digunakan dalam hubungannya dengan ajaran Sufi untuk mempersiapkan pikiran terhadap pengalaman-pengalaman di luar pola-pola kebiasaan yang berlaku.

Pada cerita pertama, Nashruddin dikunjungi oleh seorang calon murid. Orang tersebut, setelah mengalami berbagai cobaan, sampai ke gubuk di lereng gunung di mana Nashruddin sedang duduk. Karena mengetahui bahwa setiap gerak dari Sufi yang telah tercerahkan (mukasyafah) memiliki makna, maka pendatang baru tersebut menanyakan kepada Nashruddin mengapa ia meniup tangannya. “Tentu saja untuk menghangatkannya,” jawab Nashruddin.

Setelah itu, Nashruddin mengambil dua mangkuk sup, dan meniupnya, “Mengapa guru melakukan hal itu?” tanya si murid. “Tentu saja untuk mendinginkannya,” jawab si guru.

Sampai di sini si murid meninggalkan Nashruddin, karena tidak lagi bisa mempercayai seorang yang menggunakan proses yang sama untuk mencapai hasil yang berbeda — panas dan dingin.

Menguji sesuatu dengan cara yang diambil dari sesuatu itu sendiri — seperti menguji pikiran dengan pikiran itu sendiri, menguji makhluk dengan cara pandang makhluk itu sendiri, padahal ia adalah wujud yang belum berkembang — tidak bisa dilakukan. Pembentukan teori berdasar pada cara-cara subyektif semacam ini mungkin terasa baik untuk jangka pendek, atau untuk tujuan-tujuan khusus. Akan tetapi bagi Sufi, teori-teori semacam ini tidak mewakili kebenaran suatu alternatif semata-mata hanya dalam bentuk kata-kata, tetapi ia bisa mengkarikaturkan untuk mengungkapkan proses itu. Ketika hal ini dilakukan, pintu terbuka untuk mencari sistem alternatif dari hubungan fenomena tersebut.

“Setiap hari,” ucap Nashruddin kepada istrinya, “aku semakin kagum terhadap cara efisien dimana dengan cara tersebut dunia ini diatur — secara umum, untuk kesejahteraan manusia.”

“Apa sebenarnya yang kau maksudkan?”

“Contohnya seperti unta. Menurutmu, mengapa unta itu tidak punya sayap?”

“Aku tidak tahu!”

“Coba bayangkan, seandainya unta punya sayap, mereka mungkin bersarang di atas atap rumah dan merusak pekarangan kita dengan berjalan mondar-mandir di atas atap dan memuntahkan makanannya ke kita.”

Peran guru Sufi ditekankan dalam ceritanya yang termasyhur tentang ceramah. Cerita ini menggambarkan (di antara hal-hal lainnya, sebagaimana pada semua cerita Nashruddin) bahwa tidak ada permulaan bisa dilakukan pada orang yang sama sekali tidak tahu. Tapi bagi mereka yang mengetahui tidak perlu diajari. Akhirnya, jika terdapat beberapa orang yang telah tercerahkan pada suatu komunitas, maka seorang guru baru tidak diperlukan.

Nashruddin diundang untuk memberikan ceramah kepada penduduk di desa tetangga. Ia naik mimbar dan mulai berbicara. “Para hadirin! Apakah kalian mengetahui apa yang akan kukatakan kepada kalian?”

Sebagian pendengar yang suka membuat kegaduhan, karena berusaha untuk menghibur diri mereka sendiri, berteriak, “Tidak!” “Jika demikian,” ucap Nashruddin dengan tegas, “aku akan berhenti mencoba mengajari masyarakat yang sama sekali tidak mengerti semacam ini.”

Minggu berikutnya, setelah memperoleh jaminan dari para perusuh bahwa mereka tidak akan mengulangi ucapan mereka, para sesepuh desa kembali meminta Nashruddin memberikan ceramah kepada mereka.

“Para hadirin!” Ia mulai kembali, “Apakah kalian mengetahui apa yang akan kukatakan?”

Sebagian pendengar, karena tidak tahu pasti bagaimana harus bereaksi, sebab ia memandangi mereka dengan tajam, berguman, “Ya, kami tahu.”

“Jika demikian!” bentak Nashruddin, “aku tidak perlu lagi berbicara panjang lebar.” Ia pun meninggalkan ruangan tersebut.

Pada kesempatan ketiga, ketika seorang utusan kembali mengunjunginya dan memohon dengan sangat kepadanya untuk berbicara sekali lagi, ia pun berbicara di depan majelis tersebut.

“Para hadirin! Apakah kalian mengetahui apa yang akan kukatakan?”

Karena tampaknya ia menuntut jawaban, para penduduk desa itu pun berseru, “Sebagian dari kami mengetahui dan sebagian tidak!”

“Jika demikian,” ucap Nashruddin sebelum meninggalkan tempat, “biarlah mereka yang mengerti memberitakan yang tidak.”

Dalam Sufisme seseorang tidak bisa memulai “laku/kerja” pada suatu titik yang telah ditentukan. Guru (mursyid) harus dibiarkan membimbing masing-masing calon murid Sufi dengan caranya sendiri. Suatu ketika Nashruddin didatangi seorang pemuda yang menanyakan kepadanya, berapa lama harus dilewati sebelum ia menjadi seorang Sufi.

Ia membawa pemuda tersebut ke desa. “Sebelum menjawab pertanyaanmu, aku ingin mengajakmu pergi mengunjungi seorang guru musik untuk mengetahui cara bermain seruling.

Di rumah musisi tersebut Nashruddin menanyakan bayarannya.

“Tiga keping perak untuk bulan pertama. Setelah itu, satu keping perak setiap bulan.”

“Wah, banyak sekali!” kata Nashruddin, “aku akan kembali sebulan lagi.”

Indera keenam yang dicapai seorang Sufi, yang oleh para teoritikus dianggap sebagai suatu indera yang mampu mengetahui secara utuh terhadap seluruh pengetahuan ketuhanan, sebenarnya tidaklah demikian. Sebagaimana indera-indera lainnya, indera keenam mempunyai keterbatasan. Fungsinya bukan untuk mengantarkan insan kamil mencapai keutuhan kebijaksanaan (hikmah), tetapi untuk memungkinkannya memenuhi suatu misi persepsi yang lebih besar dan kehidupan yang lebih utuh. Ia tidak lagi mengalami rasa ketidakpastian dan ketimpangan yang biasa dialami oleh orang kebanyakan. Cerita tentang anak-anak laki-laki dan pohon disajikan untuk menyampaikan makna ini:

Beberapa anak laki-laki ingin mengambil terompah Nashruddin. Ketika ia lewat, anak-anak tersebut mengerumuninya dan berkata, “Mullah, tidak seorang pun bisa memanjat pohon ini.”

“Tentu mereka bisa,” ucap Nashruddin. “Aku akan memperlihatkan kepada kalian bagaimana caranya, sehingga kalian bisa mencontohnya.”

Ia hampir saja meninggalkan terompahnya di bawah, tetapi sesuatu mengingatkannya, dan ia pun menyelipkan terompah tersebut di sabuknya sebelum memulai memanjatnya.

Anak-anak itu pun kecewa, “Untuk apa terompahnya dibawa?” salah satu dari mereka berseru kepadanya.

“Sebab pohon ini belum pernah dipanjat, bagaimana aku tahu bahwa di atas sana tidak ada jalan?” jawab Nashruddin enteng.

Ketika seorang Sufi menggunakan intuisinya, ia tidak bisa menjelaskan tindakannya secara nalar.

Indera keenam juga memberikan kepada pemilik barakah cara-cara yang secara jelas untuk menciptakan hal-hal tertentu bisa terjadi. Kemampuan ini sampai ke Sufi melalui cara-cara di luar penalaran formal.

“Allah akan memberikan gantinya,” ucap Nashruddin kepada seorang laki-laki yang baru dirampok.

“Aku tidak melihat bagaimana hal itu bisa terjadi?” ucap orang tersebut.

Tiba-tiba Nashruddin membawanya ke dalam masjid, dan menyatakan kepadanya untuk berdiri di sudut. Kemudian Mullah mulai meratap dan menangis, mengadu kepada Allah untuk mengembalikan dua puluh keping perak milik orang tersebut. Ia membuat keributan sedemikian rupa sehingga jamaah yang ada di masjid itu mengumpulkan sumbangan dan menyerahkannya kepada laki-laki tersebut.

“Anda mungkin tidak memahami cara yang berjalan dan berlaku di dunia ini,” ucap Nashruddin, “tetapi mungkin Anda akan memahami apa yang telah terjadi di rumah Allah ini.”

Berpartisipasi dalam cara kerja realitas sangat berbeda dari perluasan intelektual dari fakta yang diamati. Untuk membuktikan hal ini, suatu ketika Nashruddin membawa sapi tua ke sebuah lomba pacuan kuda. Lomba ini menerima semua peserta dengan berbagai hewan yang berbeda.

Setiap orang tertawa, sebab sama-sama diketahui bahwa seekor sapi tua tidak bisa berlari cepat.

“Omong kosong!” ucap Nashruddin, “secara pasti ia akan berlari dengan cepat, jika ia diberi kesempatan. Mungkin ketika ia masih berupa lembu muda, kalian melihatnya bisa berlari cepat. Sekarang, meskipun ia tidak berlatih, tidak punya kesempatan untuk berlari, ia telah tumbuh secara utuh. Mengapa ia tidak bisa berlari lebih cepat lagi?”

Cerita tersebut juga menyerang kepercayaan bahwa hanya karena sesuatu — atau seseorang — itu tua, maka secara pasti lebih baik dari sesuatu yang muda. Sufisme sebagai suatu aktivitas, sadar dan hidup tidak terikat dengan masa lalu atau tradisi yang kaku. Setiap Sufi yang hidup pada hari ini mewakili setiap Sufi yang telah hidup di masa lalu, atau yang akan datang kemudian. Jumlah atau tingkatan barakah yang sama tetap ada, dan tradisi kuno tidak menambah nilai, yang tetap konstan.

Kedalaman lebih jauh dari cerita ini menunjukkan bahwa murid (anak lembu) mungkin berkembang menjadi seseorang dengan fungsi yang secara jelas berbeda (lembu tua) dari apa yang diduga seseorang. Jarum jam tidak bisa diputar batik. Mereka yang bersandar pada teori spekulatif (filsafat) tidak akan bisa bersandar pada Sufisme.

Tidak adanya suatu fakultas intuitif pada manusia secara umum mengakibatkan suatu situasi yang hampir tanpa harapan, dan banyak cerita Nashruddin menekankan kenyataan ini.

Nashruddin memainkan peranan dari seorang darwis yang tidak peka dalam cerita tentang sekantong beras. Suatu hari ia tidak setuju dengan kepala biara di mana ia tinggal. Sesaat kemudian, sekantong beras hilang. Kepala biara memerintahkan setiap orang berbaris di halaman. Kemudian ia mengatakan kepada mereka bahwa orang yang telah mencuri beras tersebut pada jenggotnya terdapat beberapa biji beras tersebut.

“Ini tipuan lama, agar pihak yang bersalah menyentuh jenggotnya secara tidak sadar,” pikir si pencuri asli, dan ia pun tetap berdiri tegap. Di pihak lain, Nashruddin berpikir, “Ketua biara ingin membalas dendam kepadaku. Ia pastilah telah menyelipkan biji beras dijenggotku!” Ia berusaha membuangnya secara diam-diam.

Ketika jari-jarinya menyisir jenggotnya, ia menyadari bahwa setiap mata tertuju menatap kepadanya.

“Bagaimanapun aku tahu, cepat atau lambat ia pasti akan menjebakku,” ucap Nashruddin.

Apa yang oleh sebagian orang dipandang sebagai kebenaran, seringkali sungguh-sungguh merupakan hasil dari kekhawatiran dan imajinasi.

Semangat skeptisisme tentang persoalan-persoalan metafisis bukan berarti hanya terbatas pada Barat. Di Timur, merupakan hal yang biasa bagi orang untuk mengatakan bahwa mereka merasa kepenganutan terhadap suatu madzhab mistis akan menghilangkan otonomi mereka, atau sebaliknya akan merampas sesuatu bagi mereka. Orang-orang semacam ini secara umum diabaikan oleh para Sufi, sebab mereka belum mencapai tahapan dimana mereka menyadari bahwa mereka telah menjadi tawanan tirani yang jauh lebih buruk (yaitu dari Pendosa-Tua) daripada apa pun yang bisa dirancangkan bagi mereka di sebuah madrasah mistik. Meskipun demikian, terdapat satu lelucon Nashruddin yang secara tegas menunjukkan hal ini:

“Aku mendengar suara seorang gelandangan di ruang bawah,” bisik istri Nashruddin kepadanya di suatu malam.

“Jangan bersuara!” jawab Nashruddin, “kita tidak memiliki apa pun yang layak dicuri. Dengan sedikit keberuntungan, mungkin ia justru akan meninggalkan sesuatu.”

Nashruddin, sebagai gelandangan karena banyak rumah kosong, selalu meninggalkan sesuatu — jika si penghuni bisa mengenalinya.

Dalam Sufisme, cara-cara praktis bagi pengajaran adalah penting. Hal ini sebagian karena Sufisme merupakan suatu upaya aktif; sebagian karena, meskipun orang-orang menunaikan kebenaran sekadar penghormatan manakala dikatakan kepada mereka, realitas kebenaran biasanya tidak jauh memasuki fakultas diskursif mereka.

Nashruddin tengah menambal atap rumahnya ketika seseorang memanggilnya untuk turun ke jalan. Ketika turun, ia bertanya kepada orang tersebut tentang apa yang ia inginkan.

“Uang,” jawabnya.

“Mengapa engkau tidak mengatakannya ketika memanggilku di atas?” ucap Nashruddin.

“Aku malu untuk mengemis.”

“Naiklah ke atas!” ucap Nashruddin.

Ketika mereka sampai di atap, Nashruddin mulai meletakkan genteng-genteng itu kembali. Orang tersebut batuk-batuk, dan Nashruddin, tanpa menoleh, lalu berkata, “Aku tidak punya uang untukmu.”

“Apa? Anda bisa mengatakannya tanpa harus membawaku ke atas sini!”

“Lantas bagaimana engkau bisa membayarku karena telah membawaku turun?!”

Sejumlah besar hal secara langsung bisa terlihat jelas oleh Sufi, yang tidak bisa dicapai oleh orang kebanyakan. Sebuah tamsil digunakan untuk menjelaskan sebagian tindakan mengagumkan yang dilakukan Sufi, yang didasarkan pada kekuatan supra-inderawi. Bagi Sufi, kekuatan-kekuatan ini tidak lebih mengherankan dari indera-indera orang kebanyakan. Hanya saja bagaimana cara kerjanya tidak bisa digambarkan, tetapi sebuah analogi kasar bisa diberikan.

“Manusia dalam keadaan tertidur,” ucap Nashruddin, ketika ia dituduh tertidur di ruang pengadilan istana pada suatu hari. “Keterjagaan manusia kebanyakan hampir tidak ada gunanya bagi orang lain.”

Sang raja marah.

Hari berikutnya, setelah menyantap makanan berat, Nashruddin tertidur, dan sang raja memerintahkan agar ia dibawa ke ruang terdekat. Ketika pengadilan istana akan dibuka, Nashruddin yang masih mengantuk, kembali dibawa ke ruang pendengar.

“Engkau kembali tertidur,” ucap sang raja.

“Aku seperti dalam keadaan terjaga jika dibutuhkan.”

“Baiklah jika demikian, ceritakan kepadaku apa yang terjadi ketika engkau berada di luar ruangan.” Untuk menakjubkan setiap orang, Mullah mengulangi kisah yang panjang dan rumit yang telah disampaikan oleh sang raja.

“Bagaimana Anda bisa melakukan Nashruddin?”

“Sederhana,” ucap sang Mullah, “aku bisa mengatakan berdasarkan ekspresi wajah raja bahwa ia akan menceritakan kembali kisah lama tersebut. Itulah mengapa aku pergi tidur selama cerita itu disampaikan.”

Nashruddin dan istrinya dalam cerita berikut digambarkan sebagai dua orang biasa, yakni sebagai suami dan istri. Meski demikian keduanya belum bisa saling memahami, karena adanya kenyataan bahwa komunikasi manusia biasa yang berlaku adalah palsu dan tidak jujur. Komunikasi antara para Sufi memiliki tatanan yang berbeda. Selain itu, tidaklah berguna untuk mencoba menggunakan kekasaran dan ketidakjujuran dari komunikasi biasa bagi tujuan-tujuan mistis. Paling tidak, berbagai cara komunikasi digabungkan oleh para sufi untuk menghasilkan suatu sistem (komunikasi) penandaan yang sama sekali berbeda.

Istri Nashruddin marah kepadanya. Oleh sebab itu, ia membawakan supnya yang masih mendidih kepada sang suami, dan tidak mengingatkan, sang suami bahwa itu bisa membuatnya terluka.

Tetapi ia menyesal dan merasa marah dengan dirinya sendiri, dan begitu sup tersebut dihidangkan, ia meneguknya sebagian. Air mata karena rasa sakit mengembang di matanya. Tetapi ia masih berharap bahwa Nashruddin akan menyakiti dirinya sendiri.

“Sayang, ada apa?” tanya Nashruddin.

“Aku hanya berpikir tentang ibuku yang malang. Ia biasanya menyukai sup ini, ketika masih hidup.”

Nashruddin meneguk penuh sup tersebut dari mangkuknya.

Air mata meleleh di pipinya.

“Apakah engkau menangis, Nashruddin?”

“Ya. Aku menangis karena berpikir bahwa ibumu yang tua meninggal, sungguh malang, dan meninggalkan seseorang sepertimu di negeri orang yang hidup.”

Dilihat dari sudut pandang realitas, yang merupakan sudut pandang Sufi, sistem metafisis lainnya mengandung beberapa kerugian yang parah, sebagian pantas dipertimbangkan. Apa yang dikatakan oleh seorang mistikus tentang pengalaman-pengalamannya, ketika disampaikan dalam kata-kata, selalu membentuk suatu penyelewengan fakta yang hampir-hampir tidak berguna. Selain itu, penyelewengan ini bisa diulang oleh orang lain secara cukup mengesankan untuk bisa terlihat mendasar dan mendalam; tetapi dalam dirinya sendiri ia tidak memiliki nilai yang mencerahkan. Bagi Sufi, mistisisme bukan persoalan berjalan ke sana ke mari dan memperoleh pencerahan, dan kemudian berupaya mengungkapkan sesuatu dari pencerahan tersebut. Ia merupakan suatu upaya yang berhubungan dengan kesejatian wujudnya dan menghasilkan suatu kaitan antara seluruh kemanusiaan dan dimensi ekstra pemahaman.

Seluruh persoalan ini — dan ada beberapa lagi — secara bersamaan dicakup dalam salah satu dari cerita Nashruddin:

Mullah telah kembali ke desanya dari ibukota kerajaan, dan para penduduk desa mengerumuninya untuk mendengar apa yang akan ia ceritakan tentang petualangannya.

“Pada saat ini,” ucap Nashruddin, “aku hanya ingin mengatakan bahwa raja telah berbicara kepadaku.”

Ada desah kekaguman. Seorang warga dari desa mereka benar-benar telah diajak bicara oleh raja! Berita menggemparkan tersebut lebih dari cukup bagi orang-orang desa itu. Mereka menyebarkan berita mengagumkan tersebut.

Tetapi pada akhirnya mereka bertanya-tanya apa kiranya yang telah dikatakan kepada Nashruddin.

“Apa yang telah ia katakan — berbeda jauh dari apa yang kalian duga — adalah, ‘Menyingkirlah dari hadapanku!'”

Orang bodoh tersebut lebih dari puas. Hatinya berbunga-bunga. Bagaimana juga, bukankah ia tidak benar-benar mendengar kata-kata yang digunakan raja; dan melihat orang yang kepadanya hal itu mereka tujukan?

Cerita tersebut sangat populer di antara cerita-cerita rakyat tentang Nashruddin, dan tujuan moralnya yang jelas dimaksudkan kepada orang-orang yang suka menyebut nama orang-orang besar (name droppers). Tetapi makna Sufistik sangatlah penting untuk mempersiapkan pikiran darwis mencapai pengalaman-pengalaman yang menggantikan pengalaman-pengalaman superfisial seperti ini.

Lebih dari menarik untuk mengamati pengaruh dari cerita-cerita Nashruddin terhadap masyarakat secara umum. Mereka yang lebih menyukai emosi-emosi yang lebih biasa dari kehidupan akan condong pada maknanya yang jelas, dan mendesakkan untuk memperlakukannya sebagai lelucon. Kelompok ini meliputi mereka yang mengumpulkan atau membaca selebaran-selebaran kecil dari lelucon yang lebih jelas, dan yang memperlihatkan kesulitan nyata ketika cerita-cerita metafisis disampaikan kepada mereka.

Nashruddin sendiri menjawab orang-orang seperti ini dalam salah satu dari ceritanya yang tersingkat:

“Mereka mengatakan lelucon-lelucon Anda penuh makna yang tersembunyi. Apakah memang demikian?”

“Tidak!” jawab Nashruddin.

“Mengapa tidak?”

“Sebab aku tidak pernah mengatakan kebenaran dalam kehidupan, meskipun sekali dan Anda pun tidak akan pernah bisa melakukannya.”

Orang kebanyakan mungkin mengatakan, dengan suatu pengertian yang mendalam, bahwa semua humor adalah benar-benar serius, bahwa setiap lelucon membawa suatu pesan pada suatu tingkatan filosofis, tetapi sistem pesan ini tidak berlaku pada cerita Nashruddin. Seorang humoris yang sinis, seperti bisa diduga, seperti filosuf Yunani, mungkin menunjukkan kerancuan pada pemikiran dan tindakan kita. Ini juga bukan peranan Nashruddin — sebab pengaruh menyeluruh dari (cerita) Nashruddin merupakan sesuatu yang lebih mendalam. Karena cerita-cerita Nashruddin semuanya memiliki suatu hubungan yang kuat antara satu dengan lainnya dan dengan suatu bentuk realitas yang merupakan ajaran Sufi, maka siklus tersebut merupakan sebagian dari suatu konteks perkembangan sadar yang secara tepat tidak bisa dikaitkan dengan ketajaman dari humoris biasa atau satirisme sporadis dari pemikir formal.

Ketika sebuah cerita Nashruddin dibaca dan direnungkan, sesuatu akan terjadi. Kesadaran akan peristiwa dan keberlangsungan itulah yang merupakan pusat dari Sufisme.

Untuk menjawab pertanyaan, “Metode apakah yang berlaku dalam Sufisme?” Anis Khoja mengatakan, “Tanpa keberlangsungan tidak akan ada Sufisme, tanpa wujud dan menjadi (being and becoming) tidak akan ada Sufisme, tanpa keterkaitan tidak akan ada Sufisme.”

Kebenaran ini sampai tingkatan (tertentu) disampaikan melalui kata-kata. Selain itu, hal ini sebagian disampaikan melalui tindakan yang saling berhubungan dari kata-kata dengan reaksi pendengarnya. Tetapi pengalaman Sufi hadir melalui cara dari suatu mekanisme yang mengambil alih pada titik dimana kata-kata terlepas titik tindakan, dari “bekerja” dengan seorang mursyid.

Suatu saat Nashruddin menggambarkan hal ini dalam cerita “Cina”-nya yang terkenal. Ia pergi ke Cina di mana ia mengumpulkan sekelompok murid, yang dipersiapkannya bagi pencerahan. Mereka menjadi tercerahkan mendadak berhenti menghadiri kuliah-kuliahnya

Sekelompok orang dari para pengikutnya yang tengah berkembang (kemampuan spiritualnya), yang menginginkan pencerahan lebih jauh, merantau dari Persia ke Cina untuk melanjutkan studi bersamanya.

Setelah kuliah pertama mereka, ia menerima mereka.

“Mullah, mengapa,” salah seorang dari mereka bertanya, “kuliahmu tentang kata-kata rahasia yang kami bisa memahaminya (tidak seperti orang Cina)? Kata-kata itu adalah namidanam dan hichmalumnist! Dalam bahasa Persia, kata-kata ini bermakna, ‘Aku tidak tahu,’ dan ‘Tidak seorang pun yang tahu’.”

“Lantas apa yang seharusnya aku lakukan — mencopot kepalaku?” tanya Nashruddin.

Para Sufi mempergunakan istilah-istilah teknis untuk menyampaikan padanan yang mendekati misteri-misteri yang merupakan pengalaman-pengalaman yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Hingga seorang Salik siap untuk “menangkap” pengalaman itu, ia dijaga agar tidak membuat kesalahan dengan mencoba menyelidikinya secara intelektual dengan menggunakan cara-cara yang sama ini. Pengalaman itu sendiri merupakan akibat dari spesialisasi sadar, maka Sufisme telah menyimpulkan bahwa tidak ada jalan pintas menuju pencerahan. Ini tidak berarti bahwa pencerahan akan memerlukan waktu yang lama. Yang ini berarti bahwa seorang Sufi mesti berpegang pada Tarekat.

Nashruddin, yang memainkan peran sebagai orang yang mencari jalan pintas, muncul dalam sebuah lelucon yang menyampaikan gagasan ini:

Di pagi hari yang indah, Nashruddin sedang berjalan pulang. Mengapa, ia berpikir, tidak mengambil jalan pintas melewati hutan indah daripada jalan berdebu itu?

“Sehari dari sekian banyak hari, sehari demi pengejaran keberuntungan!” serunya kepada dirinya sendiri, sambil memasuki kawasan yang hijau.

Seketika, ia mendapati dirinya sudah berada di dasar sebuah lubang yang tertutup.

“Ini karena aku mengambil jalan pintas,” renungnya, ketika ia berada di lubang itu. “Kalau hal-hal seperti ini bisa terjadi di tengah-tengah keindahan semacam ini — bencana apakah yang tidak terjadi pada jalan keras membosankan yang tidak kenal kompromi tersebut?”

Dalam keadaan yang hampir serupa, suatu ketika Nashruddin terlihat tengah memeriksa sebuah sarang kosong:

“Apa yang tengah Anda lakukan, Mullah?”

“Mencari telur.”

“Tidak ada di sarang (burung) pada akhir tahun!”

“Jangan terlalu yakin,” ucap Nashruddin. “jika engkau adalah burung dan menginginkan untuk melindungi telur-telurmu, apakah engkau akan membangun sebuah sarang baru, dengan setiap mata melihatmu?”

Ini merupakan cerita lain dari cerita-cerita Nashruddin yang terlihat pada Don Quixote. Fakta bahwa lelucon ini bisa dibaca paling tidak dengan dua cara, mungkin bisa menghalangi pemikir formal, tetapi justru memberikan kesempatan kepada kaum darwis untuk memahami dualitas dari wujud-nyata, yang dikaburkan oleh pemikiran manusia konvensional. Oleh sebab itu, apa yang rancu bagi intelektual menjadi kekuatan bagi pemahaman secara intuitif.

Hubungan antara para Sufi terkadang terjadi melalui piranti tanda-tanda, dan komunikasi bisa dilakukan melalui cara-cara yang bukan saja tidak biasa, tetapi juga tampak tidak masuk akal, bagi pikiran yang dikondisikan dalam cara biasa. Tentu saja hal ini tidak mencegah pemikir dengan pola tersebut dari upaya untuk memahami dari apa yang tampaknya tidak masuk akal. Pada akhirnya ia mendapatkan penafsiran yang salah, meskipun hal ini mungkin bisa memuaskannya.

Seorang mistikus lain menghentikan Nashruddin di tengah jalan, dan menunjuk ke langit. Orang itu bermaksud mengatakan, “Hanya ada satu kebenaran yang meliputi semuanya.”

Pada saat itu Nashruddin ditemani oleh seorang sarjana, yang tengah berupaya menemukan dasar rasional dari Sufisme. Sarjana itu berkata kepada dirinya sendiri, “Gagasan orang aneh ini adalah gila. Barangkali Nashruddin akan mengambil langkah pencegahan terhadapnya.”

Benar saja, Mullah Nashruddin merogoh kantong kulitnya dan mengeluarkan sebuah gulungan tali. Si sarjana tersebut berpikir, “Hebat, kita akan bisa menangkap dan mengikat orang gila itu jika ia menjadi liar.”

Sesungguhnya, tindakan Nashruddin tersebut bermakna, “Manusia kebanyakan berupaya mencapai ‘langit’ tersebut dengan cara-cara yang tidak memadai seperti halnya dengan tali”.

“Orang gila” tersebut tertawa dan berjalan pergi. “Hebat!” ucap si sarjana, “Anda telah menyelamatkan kita darinya.”

Cerita ini telah mendorong kemunculan sebuah ungkapan Persia, “Pertanyaannya tentang langit-jawabannya tentang tali”. Ungkapan itu, seringkali diucapkan oleh agamawan non-Sufi atau para intelektual, kerap digunakan dalam pengertian yang sama sekali bertentangan dengan pengertian asalnya.

Pengetahuan tidak bisa dicapai tanpa usaha, suatu kenyataan yang secara umum diterima. Tetapi cara-cara konyol yang digunakan untuk memproyeksikan upaya tersebut, dari kerancuan upaya-upaya itu sendiri, secara efektif menutup jalan menuju pengetahuan bagi orang yang berusaha untuk memindahkan sistem pengetahuan dalam satu bidang ke bidang lainnya.

Yogurt dibuat dengan cara menambahkan sejumlah kecil yogurt lama ke sejumlah besar susu. Tindakan dari bacillus bulgaricus dalam porsi yogurt asli pada waktunya akan mengubah seluruh campuran tersebut menjadi sejumlah yogurt baru.

Suatu hari sebagian sahabat melihat Nashruddin berjongkok di samping sebuah timba. Ia tengah menambahkan sejumlah kecil yogurt lama ke air. Salah satu sahabatnya berkata, “Apa yang tengah Anda lakukan, Nashruddin?”

“Aku tengah membuat yogurt.”

“Tetapi Anda tidak bisa membuat yogurt dengan cara itu!

“Ya aku tahu, tetapi aku sekadar menduganya bisa berhasil.”

Siapa pun akan tertawa melihat ketololan dari Mullah yang bodoh tersebut. Sebagian orang percaya bahwa banyak bentuk dari humor tergantung nilai hiburannya di atas pengetahuan bahwa orang yang menertawakan tidak sebodoh orang yang ditertawakan. Jutaan orang yang tidak akan berusaha membuat yogurt dengan air akan berusaha untuk menembus pemikiran esoterik dengan cara-cara yang sama-sama keliru.

Sebuah cerita yang dinisbatkan kepada Nashruddin bermaksud membedakan antara pencarian mistis pada dirinya sendiri dari bentuk yang didasarkan pada lebih sedikit, kriteria etis atau formal agama:

Seorang pendeta Cina diriwayatkan telah berkata kepada Nashruddin, “Setiap orang harus memandang tindakannya sebagaimana ia memandang tindakan orang lain. Anda harus memiliki orang lain seperti apa yang Anda miliki dalam hati Anda sendiri!”

Ini bukan ungkapan dari Aturan Emas Kristiani, meskipun ia mengandung pengertian yang sama. Sesungguhnya pernyataan ini merupakan kutipan dari Confucious (lahir 551 S.M.).

“Ini akan menjadi pernyataan yang mengagumkan,” jawab Nashruddin. “Sebab, setiap orang yang berhenti sejenak untuk menyadari bahwa apa yang diinginkan seseorang untuk dirinya sendiri tampaknya pada akhirnya cenderung menjadi sesuatu yang tidak diingini sebagaimana yang ia inginkan terhadap musuhnya, lebih-lebih terhadap sahabatnya.”

“Apa yang harus dimiliki dalam hatinya bagi orang lain adalah bukan apa yang ia inginkan untuk dirinya. Ia adalah apa yang seharusnya bagi dirinya, dari apa yang seharusnya bagi semua orang. Ini hanya diketahui ketika kebenaran batiniah terungkap.”

Versi lain dari jawaban (Nashruddin) ini menyatakan secara singkat, “Seekor burung memakan buah berry beracun, yang tidak membahayakannya. Satu hari ia mengumpulkan sebagian buah tersebut untuk makanannya, dan merelakan makan siangnya dengan memberi makan buah-buah tersebut kepada sahabatnya, seekor kuda.”

Seorang guru Sufi lainnya, Amini as-Samarkandi, secara singkat mengulas tentang tema ini, sebagaimana yang dilakukan Rumi sebelumnya, “Seorang laki-laki menginginkan orang lain untuk membunuhnya. Biasanya ia menginginkan hal ini bagi siapa saja, sebab ia adalah ‘orang baik’. Sudah tentu, ‘orang baik’ adalah orang yang menginginkan agar orang lain mempunyai apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Masalah tunggal dari hal ini adalah bahwa apa yang ia inginkan seringkali merupakan hal terakhir yang ia butuhkan.”

Untuk itu ada penekanan dalam Sufisme terhadap realitas yang harus mendahului etika dari dianggap memiliki validitas universal yang bahkan dengan pertimbangan umum bisa memperlihatkan ketiadaannya.

Cerita-cerita Nashruddin, secara insidentil, tidak bisa dianggap sebagai sistem filsafat yang dimaksudkan untuk membujuk orang meninggalkan kepercayaan dari memeluk ajaran-ajarannya. Dengan konstruksi yang sama, Sufisme tidak bisa diajarkan. Ia tidak bisa bersandar pada peniadaan sistem-sistem lainnya dan menawarkan suatu pengganti, atau suatu sistem yang lebih masuk akal. Sebab ajaran Sufi hanya secara parsial dinyatakan dalam kata-kata, ia tidak pernah mencoba menyerang sistem-sistem filsafat dengan istilahnya sendiri. Usaha melakukan hal itu agar Sufisme sesuai dengan artifisialitas-artifisialitas — adalah suatu kemustahilan. Melalui kandungannya sendiri, metafisika tidak bisa didekati dengan cara ini, maka Sufisme bersandar pada dampak gabungan — penyebaran “yang berserakan”. Calon Sufi mungkin dipersiapkan atau secara parsial dicerahkan oleh Nashruddin. Tetapi untuk “mematangkan” diri, ia harus terlibat dalam kerja praktis dan mengambil manfaat dari kehadiran nyata seorang guru dan di antara Sufi lainnya. Sesuatu lainnya adalah mengacu pada istilah kesalehan, “Mencoba mengirim ciuman melalui utusan pribadi”. Ini memang sebuah ciuman, tetapi ia bukan yang dimaksudkan.

Jika Sufisme diterima sebagai metodologi yang dengannya petunjuk-petunjuk dari guru keagamaan bisa diberikan pengungkapan sejatinya, maka bagaimana seorang calon Sufi bisa menemukan sumber pengajaran bagi seorang pengajar yang harus ia miliki?

Guru sejati tidak bisa mencegah pertumbuhan dan perkembangan dari sekolah-sekolah [aliran-aliran] yang dianggap sebagai sekolah mistis yang menerima para murid dan menyebarkan versi palsu dari ajaran pencerahan. Lebih sulit, jika kita melihat fakta-fakta tersebut secara obyektif, adalah sedikitnya kemampuan untuk membedakan antara suatu sekolah sejati dan yang palsu. “Koin palsu hanya ada karena terdapat sesuatu yang asli seperti halnya emas asli”, menjadi berlaku dalam ajaran Sufi — tetapi bagaimana yang sejati bisa dibedakan dari yang palsu oleh seseorang yang tidak memiliki pelatihan untuk hal itu?

Sang pemula (murid) terselamatkan dari ketidakpekaan menyeluruh, sebab di dalam dirinya terdapat suatu kemampuan dasar untuk bereaksi terhadap “emas sejati”. Dan sang guru, dengan mengenali kapasitas batin tersebut, akan mampu menggunakannya sebagai piranti penerimaan tanda-tandanya. Adalah benar, dalam tahapan-tahapan awal, tanda-tanda tersebut disampaikan oleh guru yang harus diatur dengan cara sedemikian rupa, lantas dipersepsikan secara tidak memadai dan secara mekanis mungkin menyesatkan penerima. Tetapi kombinasi dari dua unsur tersebut akan memberikan suatu dasar bagi suatu pengaturan kerja.

Pada tahapan ini guru sampai pada tingkatan yang harus menandai waktu. Beberapa cerita Nashruddin, sebagai tambahan bagi nilai hiburannya, menekankan adanya ketidakharmonisan yang terjadi pada awal tahapan antara guru dan murid yang memenuhi periode persiapan:

Sejumlah calon murid pada satu hari mendatangi Nashruddin dan memintanya untuk memberikan pelajaran kepada mereka, “Baiklah,” ucap Nashruddin, “Ikuti aku ke ruang pertemuan!”

Dengan penuh kepatuhan mereka berbaris di belakang Nashruddin yang menunggang keledainya dengan menghadap ke belakang. Pada awalnya anak-anak muda itu kebingungan, pada akhirnya mereka ingat bahwa mereka tidak seharusnya menanyakan tindakan guru, bahkan yang terkecil sekalipun. Pada akhirnya mereka tidak tahan terhadap ejekan orang-orang yang lewat.

Melihat kesulitan mereka, Nashruddin berhenti dan memandangi orang paling berani dari mereka dan mendekatinya.

“Mullah, kami benar-benar tidak mengerti mengapa Tuan menunggang keledai secara terbalik?”

“Sangat sederhana,” ucap Nashruddin, “kalian lihat, jika kalian berjalan di depanku, itu berarti kalian tidak menghormatiku. Di sisi lain, jika aku menghadapkan punggungku kepada kalian, ini berarti tidak menghormati kalian. Cara ini merupakan satu-satunya kompromi yang mungkin dilakukan.”

Bagi seseorang yang berpandangan tajam, memiliki lebih dari satu dimensi tentang hal ini, dan tentu cerita-cerita lainnya menjadi jelas. Jaringan pengaruh dari suatu cerita yang dialami pada tingkat-tingkat yang berbeda-beda sekaligus adalah untuk membangkitkan kapasitas batin bagi pemahaman terhadap suatu yang komprehensif, cara lebih obyektif dibanding yang mungkin dihasilkan oleh cara berpikir biasa, kaku dan tidak memadai. Sebagai contoh, dalam cerita ini, Sufi melihat pada saat yang bersamaan, pesan-pesan dan kaitan-kaitannya dengan ranah wujud lain yang tidak saja membantunya dalam jalannya, tetapi juga memberikan kepadanya informasi positif. Sampai pada tingkatan kecil pemikir kebanyakan mungkin bisa mengalami (mutatis mutandis) perspektif-perspektif yang berbeda dengan mempertimbangkannya secara terpisah. Sebagai contoh, Nashruddin mampu mengamati para murid dengan cara duduk terbalik. Ia tidak peduli apa yang akan dipikirkan orang lain tentang dirinya, sementara para murid pemula tersebut masih peka terhadap pandangan publik dan (pandangan yang tidak berdasar pengetahuan). Ia bisa saja menunggang keledai secara terbalik, tetapi ia tetap bisa mengendalikan, sementara mereka tidak bisa. Nashruddin dengan merusak kebiasaan yang berlaku tersebut, meskipun menjadikan dirinya sendiri tampak konyol, sebenarnya tengah menyatakan bahwa ia berbeda dari orang kebanyakan. Juga karena ia telah berada pada jalan tersebut sebelumnya, ia tidak perlu menghadap ke depan untuk melihat ke mana arahnya. Sekali lagi, dalam posisi tersebut, meskipun tidak nyaman menurut standar kebanyakan, ia mampu menjaga keseimbangannya. Sekali lagi ia tengah mengajarkan dengan bekerja dan wujud, bukan dengan kata-kata.

Pertimbangan-pertimbangan semacam ini, yang diubah ke dalam bidang metafisika dan kemudian dijalani atau dialami secara bersamaan, akan menghasilkan keseluruhan dampak yang tersusun dari cerita Nashruddin terhadap mistikus yang tengah mengalami kemajuan spiritual.

Kecerdasan Nashruddin, yang diperlukan karena adanya kebutuhan untuk memelesetkan melalui jaring-jaring yang telah diatur oleh Pendosa-Tua, tampak pada setiap cerita. Penampilannya yang menampakkan kegilaan merupakan karakteristik dari Sufi, yang tindakan-tindakannya mungkin tidak bisa dijelaskan dan tampak gila bagi penontonnya. Dalam setiap cerita ia menekankan penegasan Sufi bahwa tidak ada sesuatu pun yang bisa dimiliki, tanpa harus membayarnya. Bayaran ini mungkin mengambil berbagai bentuk pengorbanan — berupa gagasan-gagasan yang hidup, uang, cara mengerjakan banyak hal. Poin terakhir tersebut sangat mendasar, sebab pencarian Sufi adalah mustahil jika kawasan yang dipergunakan dalam perjalanan telah diduduki oleh unsur-unsur yang mencegah perjalanan tersebut dilakukan.

Pada akhirnya, meskipun hal itu berat, Nashruddin bisa lolos tanpa terluka. Ini menunjukkan kenyataan bahwa meskipun deprivasi (pencegahan) pada tahapan-tahapan awal Sufisme tampaknya harus “dibayar”, dalam pandangan sesungguhnya sang pencari tidak membayar sesuatu pun. Dengan kata lain, ia tidak membayar sesuatu pun dari nilai puncak yang akan diperoleh.

Sikap Sufi terhadap uang merupakan suatu sikap yang khusus, sangat jauh dari sikap dangkal, yaitu anggapan filosofis atau teologis bahwa uang adalah akar kejahatan, atau bahwa agama/keimanan bagaimanapun bertentangan dengan uang.

Suatu hari Nashruddin meminta sejumlah uang kepada seorang yang kaya.

“Apa yang Anda inginkan dengan uang ini?”

“Untuk membeli gajah.”

“Jika Anda tidak memiliki uang, tidak akan mampu merawat seekor gajah.”

“Aku minta uang, bukan nasehat.”

Kaitannya di sini dengan gajah di kegelapan. Nashruddin membutuhkan uang untuk “kerja”. Nashruddin menyadari orang kaya tersebut tidak bisa mengubah gagasan-gagasannya untuk melihat bagaimana uang tersebut akan dibelanjakan; ia membutuhkan suatu skema keuangan yang masuk akal untuk diletakkan di depannya. Nashruddin mempergunakan kata Sufi “gajah” untuk menekankan hal ini. Secara wajar orang kaya tersebut tidak paham.

Nashruddin miskin; kata tersebut sama dengan salah satu kata yang digunakan oleh para Sufi untuk menunjukkan salah satu dari jumlah mereka — Faqir (fakir). Ketika ia benar-benar mendapat uang, didapatkannya melalui suatu cara, dan memperjuangkannya dalam suatu cara yang tidak bisa dibandingkan dengan pemikir formalis:

Suatu hari istri Nashruddin mengejeknya karena miskin.

“Jika engkau memang seorang agamawan,” ucapnya, “engkau seharusnya berdoa meminta uang. Jika itu memang pekerjaan, engkau seharusnya dibayar, sebagaimana orang lain pun dibayar untuk suatu pekerjaan.”

“Baiklah, aku akan melakukannya.”

Nashruddin segera pergi ke kebun dan berteriak sekeras-kerasnya, “Ya Tuhan! Aku telah melayani-Mu selama ini tanpa memperoleh uang. Sekarang istriku mengatakan bahwa aku seharusnya dibayar. Oleh sebab itu, bolehkah aku memiliki dalam waktu sekejap seratus keping emas sebagai bayaran selama ini?”

Seorang bakhil yang tinggal di samping rumahnya pada saat itu sedang berada di atap rumahnya, menghitung kekayaannya.

Didorong oleh pemikiran ingin mempermainkan Nashruddin, ia melemparkan di depannya sebuah kantong yang berisi seratus dinar emas.

“Terima kasih,” ucap Nashruddin dan bersegera menuju rumahnya.

Ia memperlihatkan keping-keping emas tersebut kepada istrinya, yang merasa sangat terkesima.

“Maafkan aku,” ucapnya, “aku tidak pernah benar-benar percaya bahwa engkau adalah seorang wali, tetapi sekarang aku telah melihat buktinya.”

Dua hari berikutnya, tetangga yang kikir tersebut melihat semua barang-barang mewah dikirim ke rumah Nashruddin. Ia mulai tidak bisa menahan diri, dan ia pun berdiri di depan pintu rumah Nashruddin.

“Sobat, ketahuilah,” ucap Nashruddin, “aku adalah seorang wali. Apa yang engkau inginkan?”

“Aku ingin uangku kembali. Akulah yang melemparkan kantung berisi uang emas itu, bukan Tuhan!”

“Engkau mungkin saja menjadi alat-Nya, tetapi emas tersebut tidak datang sebagai akibat dari permohonanku kepadamu.”

Si bakhil tersebut merasa serba salah. “Aku akan membawa (masalah ini) kepada hakim, dan kita akan memperoleh keadilan.”

Nashruddin sepakat. Begitu mereka berada di luar rumah, Nashruddin berkata kepada si kikir, “Aku berpakaian kasar. Jika aku tampak di sampingmu di depan hakim, perbedaan penampilan kita mungkin akan mendorong prasangka pengadilan yang bisa menguntungkanmu.”

“Baiklah,” tukas si bakhil, “ambil jubahku dan aku akan memakai pakaianmu!”

Mereka telah berlalu beberapa meter ketika Nashruddin berkata, “Engkau menunggang kuda dan aku jalan kaki. Jika kita terlihat seperti ini di depan hakim, ia mungkin akan berpikir bahwa dirinya seharusnya memberikan keputusan yang memberatkanmu.”

“Aku tahu siapa yang akan memenangkan kasus ini, tidak jadi soal ia terlihat seperti apa! Ayo tunggangilah kudaku!”

Nashruddin pun menaiki kuda itu, sementara tetangganya yang bakhil itu berjalan di belakangnya.

Ketika giliran mereka tiba, si bakhil menjelaskan apa yang telah terjadi kepada hakim.

“Dan apa yang bisa Anda katakan atas tuduhan ini?” tanya hakim kepada Nashruddin.

“Yang Mulia. Orang ini bakhil, dan ia juga menderita penyakit delusi. Ia berilusi bahwa dirinya telah memberi uang kepadaku. Sesungguhnya, uang itu berasal dari sumber yang lebih tinggi. Uang itu sekadar terlihat oleh orang ini telah diberikan olehnya.”

“Tetapi bagaimana Anda bisa membuktikannya?”

“Sangat mudah, obsesi-obsesinya berbentuk pemikiran bahwa segala hal menjadi miliknya, padahal tidak. Coba tanyakan kepadanya, milik siapa jubah yang kupakai ini …?” Nashruddin berhenti sejenak sambil menunjuk jubah yang dipakainya.

“Itu milikku,” teriak si bakhtil.

“Sekarang,” ucap Nashruddin, “tanyakan kepadanya, kuda siapa yang aku tunggangi ketika datang ke pengadilan ini?”

“Anda menunggangi kudaku!” jerit si bakhil.

“Kasus ditutup,” ucap sang hakim.

Uang oleh para Sufi dipandang sebagai suatu faktor aktif dalam hubungan antar masyarakat, dan antar masyarakat dengan lingkungannya. Karena persepsi kebanyakan dari realitas dipandang secara dangkal, maka tidak mengherankan jika penggunaan manusia normal terhadap uang juga sama-sama dibatasi oleh persepsi tersebut. Lelucon tentang katak dalam koleksi Nashruddin menjelaskan sesuatu tentang pandangan ini:

Seorang yang lewat melihat Nashruddin melemparkan uang ke kolam, dan menanyakannya mengapa ia melakukannya.

“Tadi aku berada di atas punggung keledaiku. Ia terpeleset dan tergelincir ke sisi kolam, lantas oleng dan jatuh. Tampaknya tidak ada harapan bahwa kami berdua akan selamat dari jatuh yang serius. Tiba-tiba katak-katak di air itu mulai bernyanyi keras-keras, suara ini membuat takut sang keledai. Ia bangkit dan dengan cara ini ia bisa menyelamatkan dirinya. Tidakkah katak-katak itu berhak memperoleh keuntungan karena telah menyelamatkan hidup kami?”

Meskipun pada tataran umum lelucon ini dipakai untuk memperlihatkan Nashruddin sebagai orang bodoh, tetapi makna yang lebih mendalam merupakan refleksi langsung dari sikap Sufi terhadap uang. Katak-katak itu menggambarkan manusia yang tidak bisa menggunakan uang. Nashruddin memberi balasan kepada mereka karena adanya aturan umum bahwa sebuah balasan mengikuti suatu perbuatan yang baik. Meskipun suara katak-katak tersebut tampaknya kebetulan, tetapi itu merupakan faktor lain untuk direnungkan. Paling tidak, dalam satu pandangan (pengertian), katak-katak itu tidak lebih bersalah dibanding orang kebanyakan.

Mereka mungkin tidak mengira bisa menggunakan uang, dengan benar atau sebaliknya. Cerita ini juga digunakan dalam pengertian “melemparkan mutiara di depan babi”, untuk menjawab penanya yang bertanya kepada seorang Sufi, mengapa ia tidak menjadikan pengetahuan dan hikmahnya tersedia bagi semua orang, terutama bagi orang yang (seperti katak) telah memperlihatkan kebaikan kepadanya dan yang mereka pikir bisa memahami.

Dalam rangka memahami aspek-aspek yang lebih luas dari pemikiran Sufi, dan sebelum kemajuan bisa dibuat selaras di luar jaring yang dilempar di atas kemanusiaan oleh Pendosa-Tua, dimensi-dimensi yang disyaratkan Nashruddin harus dikaji. Jika Nashruddin serupa dengan kotak Cina, dengan sekat ruang di dalam ruang, paling tidak ia menawarkan berbagai titik sederhana untuk mengenal dan terbiasa dengan cara baru dalam berpikir.

Untuk akrab dengan pengalaman Nashruddin adalah berarti mampu membuka banyak pintu pada teks-teks dan praktek-praktek para Sufi yang lebih membingungkan.

Ketika persepsi seseorang meningkat, maka begitu juga kekuatan memeras nutrisi dari cerita-cerita Nashruddin. Cerita-cerita ini memberikan kepada para pemula sesuatu yang oleh para Sufi disebut sebagai “hantaman” — dampak yang telah dihitung yang beroperasi dengan cara khusus, untuk mempersiapkan pikiran bagi upaya Sufi.

Dilihat sebagai nutrisi, hantaman Nashruddin disebut sebagai buah kelapa. Istilah ini diambil dari pernyataan Sufi, “Seekor kera melemparkan sebuah kelapa dari pucuk pohon kepada seorang Sufi yang kelaparan, dan buah tersebut mengenai kakinya. Ia mengambilnya, meminum airnya, memakan dagingnya, dan membuat sebuah mangkuk dari tempurungnya.”

Singkatnya, mereka memenuhi fungsi hantaman harfiah yang terjadi dalam salah satu kisah Nashruddin tersingkat:

Nashruddin menyerahkan sebuah timba kepada seorang anak, menyatakan kepadanya untuk menimba air dari sumur dan kemudian menjewer telinganya. “Dan ingat, jangan engkau jatuhkan!” teriaknya.

Seorang yang melihat hal itu berkata, “Bagaimana Anda bisa memukul seseorang yang tidak melakukan kesalahan?”

“Aku menduga,” ucap Nashruddin, “bahwa engkau lebih suka aku memukulnya setelah ia memecahkan timba, ketika timba dan airnya sama-sama hilang? Dengan caraku tersebut si anak akan ingat, dan timba serta isinya juga aman.”

Karena Sufisme merupakan suatu kerja komprehensif, maka bukan saja Salik yang harus belajar, seperti si anak. Kerja tersebut, seperti timba dan air, memiliki aturan-aturannya sendiri, di luar metode-metode duniawi dari seni dan ilmu pengetahuan (positif).

Tidak seorang pun mampu menempuh suatu jalan Sufi, kecuali jika memiliki potensi untuk hal itu. Jika ia mencoba melakukannya, kemungkinan terjatuh ke dalam kesalahan sangatlah besar baginya untuk memiliki satu kesempatan membawa kembali air tersebut tanpa memecahkan timbanya.

Terkadang cerita Nashruddin diatur dalam bentuk aforisme (ungkapan pendek). Berikut adalah sebagian contohnya:

“Tidak demikian kenyataannya.”

“Kebenaran merupakan sesuatu yang tidak pernah aku katakan.”

“Aku tidak menjawab semua pertanyaan; hanya mereka yang tahu semuanya secara rahasia yang bertanya kepada dirinya sendiri.”

“Jika keledaimu membolehkan seseorang mencuri jubahmu — maka curilah pelananya!”

“Contoh adalah contoh. Tak seorang pun akan membeli rumahku manakala aku memperlihatkan sebuah batu bata dari rumah kepada mereka.”

“Orang-orang menuntut untuk mencicipi kismis anggurku. Tetapi hal ini tidak akan menjadi berumur empat puluh tahun jika aku membolehkannya, bukankah demikian?”

“Untuk menghemat uang, aku membawa pergi keledaiku tanpa bekal makanan …

Sayang sekali percobaan ini terhenti karena keledai itu mati. Ia mati karena tidak terbiasa tanpa makan sama sekali.”

“Orang-orang menjual burung beo karena harganya mahal. Mereka tidak pernah berhenti memperbandingkan harga jual seekor beo yang berpikir.”

Catatan:

%d blogger menyukai ini: